Feminisasi Kemiskinan Prekariat Perempuan

Ketika Feminisme Dianggap Ancaman bagi Lelaki

May 11, 2026

Tubuh yang Diperdagangkan

May 13, 2026

Feminisasi Kemiskinan Prekariat Perempuan

Kemiskinan perempuan sering dibahas dengan cara yang terlalu sederhana. Perempuan dianggap miskin karena kurang pendidikan, kurang bekerja keras, atau tidak cukup mampu bersaing di tengah ekonomi modern. Narasi semacam ini membuat kemiskinan terlihat sebagai persoalan individual, padahal yang sebenarnya terjadi jauh lebih kompleks. Ada sistem ekonomi dan politik yang secara aktif memproduksi ketidakamanan hidup perempuan agar kapitalisme terus memiliki tenaga kerja murah dan fleksibel.

Di titik itulah feminisasi kemiskinan perlu dipahami bukan sekadar sebagai meningkatnya jumlah perempuan miskin, melainkan sebagai proses sosial yang membuat perempuan lebih rentan jatuh ke dalam kemiskinan dan lebih sulit keluar darinya. Neoliberalisme memainkan peran besar dalam proses tersebut melalui prekarianisme: kondisi kerja yang tidak stabil, tanpa jaminan masa depan, dan terus-menerus menggantungkan hidup manusia pada pasar.

Perempuan menjadi kelompok yang paling mudah diserap ke dalam sistem ini karena patriarki telah lama membentuk posisi sosial mereka sebagai tenaga pendukung, bukan pusat ekonomi. Akibatnya, kerja perempuan lebih mudah dianggap murah, fleksibel, dan dapat diganti kapan saja.

Hari ini kita melihatnya di mana-mana. Perempuan bekerja di sektor retail, pabrik, industri jasa, layanan digital, hingga platform daring dengan status kontrak pendek dan minim perlindungan sosial. Mereka terus bekerja, tetapi tetap hidup dekat dengan ketidakamanan ekonomi. Banyak perempuan akhirnya berada dalam situasi paradoks: bekerja penuh waktu tetapi tetap miskin.

Simak juga: Ketika Feminisme Dianggap Ancaman bagi Lelaki

Feminisasi Kemiskinan dan Tubuh Perempuan sebagai Bantalan Krisis

Feminisasi kemiskinan tidak lahir tiba-tiba. Ia dibangun melalui hubungan panjang antara kapitalisme dan patriarki. Dalam banyak masyarakat, perempuan sejak awal ditempatkan sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap kerja perawatan: mengurus rumah, membesarkan anak, menjaga lansia, hingga memastikan kebutuhan emosional keluarga tetap terpenuhi.

Masalahnya, kerja tersebut hampir selalu dianggap bukan kerja ekonomi.

Pemikir feminis Silvia Federici menjelaskan bahwa kapitalisme modern bertahan justru karena adanya kerja reproduksi sosial perempuan yang tidak dibayar. Sistem ekonomi dapat terus berjalan karena ada jutaan perempuan yang memasak, membersihkan rumah, merawat keluarga, dan menjaga kehidupan sehari-hari tanpa upah.

Ketika perempuan masuk ke dunia kerja formal, beban itu tidak hilang. Mereka hanya menjalani dua kerja sekaligus: kerja produktif di ruang publik dan kerja reproduktif di ruang domestik.

Di sinilah feminisasi kemiskinan bekerja secara lebih dalam. Perempuan bukan hanya menerima upah yang lebih rendah, tetapi juga kehilangan waktu, energi, dan kesempatan untuk membangun keamanan ekonomi jangka panjang. Mereka lebih rentan mengambil pekerjaan informal, lebih sulit menabung, dan lebih mudah jatuh miskin ketika terjadi krisis.

Neoliberalisme kemudian memperparah situasi tersebut dengan mengurangi perlindungan sosial negara. Subsidi dipotong. Jaminan kerja dipreteli. Sistem outsourcing diperluas. Kerja kontrak dinormalisasi. Negara perlahan melepaskan tanggung jawab kesejahteraan dan memindahkan seluruh bebannya ke rumah tangga.

Dan di dalam rumah tangga, perempuan kembali menjadi penyangga utama.

Ketika harga kebutuhan pokok naik, perempuan yang pertama kali mencari cara agar dapur tetap hidup. Ketika ekonomi keluarga runtuh, perempuan yang mencari pekerjaan tambahan. Ketika negara gagal menyediakan layanan perawatan yang layak, perempuan yang menggantikan semuanya dengan tenaga dan emosinya sendiri.

Tubuh perempuan akhirnya dijadikan bantalan permanen setiap krisis.

Baca: Riwayat Kerja PRT

Prekarianisme dan Produksi Ketidakamanan

Prekarianisme sering dipahami hanya sebagai pekerjaan kontrak atau kerja freelance. Padahal maknanya jauh lebih luas. Prekarianisme adalah kondisi hidup yang dipenuhi ketidakpastian. Orang bekerja terus-menerus, tetapi tidak pernah benar-benar aman.

Pemikir Guy Standing menyebut prekariat sebagai kelas sosial baru yang hidup tanpa stabilitas ekonomi, perlindungan sosial, dan kepastian masa depan. Mereka tidak memiliki rasa aman untuk merencanakan hidup dalam jangka panjang.

Neoliberalisme membutuhkan kondisi tersebut.

Pekerja yang hidup dalam ketidakamanan akan lebih mudah menerima upah rendah dan kondisi kerja buruk karena ketakutan terbesar mereka adalah kehilangan penghasilan. Ketika pekerjaan menjadi langka dan perlindungan sosial melemah, manusia dipaksa menerima hampir semua syarat kerja demi bertahan hidup.

Perempuan berada di posisi paling rentan dalam situasi ini.

Banyak perusahaan secara sadar merekrut perempuan untuk pekerjaan dengan upah rendah karena dianggap lebih sabar, lebih patuh, dan lebih mudah diatur. Stereotip gender berubah menjadi strategi ekonomi. Perempuan ditempatkan dalam sektor kerja yang fleksibel tetapi rapuh: kasir retail, buruh garmen, pekerja administrasi, customer service, pekerja digital, hingga gig economy tanpa jaminan kerja jelas.

Ironisnya, sistem kemudian menjual kondisi tersebut sebagai simbol kebebasan.

Kerja fleksibel dipasarkan sebagai kesempatan mengatur hidup sendiri. Padahal bagi banyak perempuan, fleksibilitas hanya berarti jam kerja yang tidak pasti, penghasilan tidak stabil, dan hidup yang terus berada di ambang kecemasan ekonomi.

Mereka harus selalu siap bekerja kapan saja, tetapi tidak pernah benar-benar memiliki keamanan hidup.

Romantisasi Perempuan Tangguh

Ada satu hal yang membuat feminisasi kemiskinan semakin sulit dilihat: masyarakat terus meromantisasi ketangguhan perempuan. Kita sering melihat narasi tentang perempuan hebat yang mampu bekerja sambil mengurus rumah, tetap produktif meski lelah, dan tetap tersenyum di tengah tekanan ekonomi.

Narasi ini tampak positif, tetapi sebenarnya menyembunyikan masalah struktural.

Perempuan dipuji karena mampu bertahan dalam kondisi yang seharusnya tidak manusiawi. Ketangguhan dijadikan standar moral. Akibatnya, ketika perempuan merasa lelah atau runtuh secara mental, mereka dianggap kurang kuat menghadapi hidup.

Pemikir Byung-Chul Han menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat kelelahan. Dalam neoliberalisme, manusia tidak lagi dikontrol hanya melalui paksaan eksternal, tetapi juga melalui tuntutan untuk terus produktif. Orang mengeksploitasi dirinya sendiri sambil percaya bahwa semua itu adalah pilihan bebas.

Perempuan prekariat hidup tepat di tengah kondisi tersebut.

Mereka dipaksa menjadi pekerja ideal: multitasking, fleksibel, emosional, murah, tetapi tetap produktif. Ketika tubuh mereka lelah, sistem tidak melihatnya sebagai tanda eksploitasi, melainkan kegagalan individu mengatur hidup.

Akibatnya, banyak perempuan hidup dalam rasa bersalah permanen. Bersalah ketika tidak cukup produktif. Bersalah ketika tidak bisa memenuhi tuntutan keluarga. Bersalah ketika merasa lelah.

Padahal yang rusak bukan individu mereka, melainkan sistem yang secara sadar membangun hidup di atas ketidakamanan perempuan.

Kemiskinan sebagai Mekanisme Kontrol

Yang paling berbahaya dari feminisasi kemiskinan adalah kemampuannya berfungsi sebagai alat kontrol sosial. Perempuan yang hidup dalam ketidakamanan ekonomi akan lebih sulit menolak eksploitasi. Mereka takut kehilangan pekerjaan. Takut tidak bisa membayar kontrakan. Takut tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketakutan itu membuat manusia lebih mudah dikendalikan.

Di titik inilah prekarianisme bekerja bukan hanya sebagai sistem ekonomi, tetapi juga sistem politik. Ketidakamanan dipelihara agar pekerja tetap patuh dan terlalu sibuk bertahan hidup untuk membangun solidaritas sosial.

Perempuan prekariat akhirnya hidup dalam survival tanpa akhir. Mereka bekerja terus-menerus, tetapi jarang benar-benar memiliki kesempatan keluar dari lingkaran kerentanan. Bahkan ketika pendapatan meningkat sedikit, krisis lain segera datang: biaya kesehatan, pendidikan, kenaikan harga pangan, atau kebutuhan keluarga yang terus bertambah.

Kemiskinan tidak pernah benar-benar pergi karena sistem memang membutuhkan kelompok yang tetap hidup dekat dengannya.

Dan perempuan menjadi kelompok paling efektif untuk menopang seluruh beban tersebut.

Ironisnya, neoliberalisme tetap menjual dirinya sebagai kemajuan. Pertumbuhan ekonomi dipuji. Fleksibilitas kerja disebut modernitas. Padahal di balik semua itu ada jutaan perempuan yang hidup dalam kelelahan permanen, tanpa jaminan masa depan, dan terus dipaksa percaya bahwa semua penderitaan itu adalah konsekuensi normal dari kehidupan modern.

Mungkin di situlah wajah paling telanjang dari feminisasi kemiskinan hari ini: kemiskinan perempuan bukan lagi sekadar hasil ketimpangan sosial, melainkan fondasi yang membuat sistem ekonomi neoliberal tetap berjalan.

Referensi

  • Silvia Federici — Caliban and the Witch
  • Guy Standing — The Precariat: The New Dangerous Class
  • Nancy Fraser — Fortunes of Feminism
  • Byung-Chul Han — The Burnout Society
  • Angela Davis — Women, Race & Class

Post Terkait

  • Perempuan, Rumah Tangga, dan Kelelahan Emosional
    Ada perubahan besar dalam kehidupan perempuan Indonesia dalam dua dekade terakhir. Perempuan kini semakin banyak hadir di ruang publik, memiliki […]
  • Babu, Riwayatmu Kini
    Sejarah kata sering kali lebih jujur daripada sejarah bangsa. Kata “babu” adalah salah satunya—sebuah istilah yang tampak sederhana, tetapi menyimpan […]
  • Buruh dan Serikat Pekerja Perempuan
    Buruh perempuan selalu hadir dalam sejarah buruh Indonesia, tetapi jarang benar-benar menjadi pusat cerita. Mereka bekerja, menopang industri, dan menjaga […]
  • Jejak, Tuntutan, Solidaritas
    Setiap tanggal 1 Mei, jalan-jalan di berbagai kota dunia dipenuhi warna merah, poster tuntutan, dan suara lantang yang menolak dilupakan. […]
  • Gerbong Khusus Perempuan: Aman atau Rentan?
    Perbincangan tentang gerbong khusus perempuan di KRL kembali mengemuka setelah kecelakaan yang melibatkan rangkaian kereta di Bekasi Timur pada 26 […]