Ada masa ketika kata feminisme terdengar seperti tuduhan. Banyak lelaki buru-buru defensif bahkan sebelum benar-benar mendengar pengalaman perempuan. Kalimat seperti “tidak semua lelaki seperti itu” sering keluar lebih cepat dibanding usaha memahami mengapa perempuan marah, takut, atau lelah hidup di dalam budaya yang terus mengawasi tubuh dan hidup mereka.
Barangkali memang sulit menerima bahwa sesuatu yang selama ini terasa normal ternyata menyimpan ketimpangan yang begitu panjang.
Sebagian lelaki tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia memang seharusnya berjalan seperti sekarang: lelaki memimpin, perempuan mengikuti. Lelaki berbicara, perempuan mendengar. Lelaki menentukan, perempuan menyesuaikan. Ketika pola itu mulai dipertanyakan, yang muncul bukan hanya penolakan terhadap feminisme, tetapi juga kegelisahan kehilangan posisi yang selama ini dianggap wajar.
Padahal feminisme tidak lahir untuk membenci lelaki. Ia lahir dari pengalaman panjang perempuan yang hidup di bawah struktur sosial yang timpang. Karena itu, memahami mengapa feminisme dianggap ancaman bagi lelaki menjadi penting untuk melihat bagaimana patriarki bekerja di dalam kehidupan sehari-hari.
Simak: Istri Indonesia Tidak Memiliki Nama
Maskulinitas dan Superioritas Lelaki
Sejak kecil, banyak lelaki dibesarkan bukan untuk memahami emosi, melainkan untuk menguasainya. Anak lelaki diminta tidak menangis, tidak lembek, dan tidak terlalu perasa. Dalam banyak keluarga, maskulinitas diukur dari kemampuan menjadi dominan.
Akibatnya, banyak lelaki tumbuh dengan hubungan yang canggung terhadap kerentanan. Mereka mudah marah tetapi sulit sedih. Mudah mengontrol tetapi sulit mendengar. Tidak sedikit yang akhirnya melihat perempuan kritis sebagai ancaman, bukan sebagai manusia yang sedang menyampaikan pengalaman hidupnya.
Sosiolog Raewyn Connell menyebut bentuk maskulinitas dominan ini sebagai hegemonic masculinity: konstruksi sosial yang menempatkan lelaki sebagai pusat kuasa dan superioritas. Dalam pola seperti ini, maskulinitas sering dibangun justru dengan menjauh dari hal-hal yang dianggap feminin.
Tidak mengherankan jika sebagian lelaki merasa terganggu ketika perempuan menjadi lebih mandiri, lebih vokal, atau tidak lagi membutuhkan validasi mereka. Sebab sejak awal mereka dibentuk untuk percaya bahwa menjadi lelaki berarti selalu berada di atas.
Di titik inilah feminisme dianggap ancaman bagi lelaki, karena ia menggugat cara lama memahami kekuasaan dan identitas maskulin.
Privilege Lelaki yang Dianggap Wajar
Masalah terbesar privilege adalah ia sering tidak terlihat bagi orang yang memilikinya.
Banyak lelaki tidak pernah benar-benar memikirkan bagaimana rasanya berjalan sendirian sambil takut diikuti, menerima komentar tentang tubuh hampir setiap hari, atau dianggap emosional ketika berbicara tegas. Hal-hal yang bagi perempuan terasa melelahkan sering dianggap biasa oleh lelaki karena mereka tidak mengalaminya secara langsung.
Filsuf Pierre Bourdieu menjelaskan bagaimana dominasi bekerja secara halus melalui symbolic violence: bentuk kekuasaan yang diterima sebagai sesuatu yang normal dan alamiah. Patriarki bekerja dengan cara seperti itu. Ia hidup di dalam candaan, cara mendidik anak, aturan berpakaian, sampai komentar-komentar kecil yang terus diulang setiap hari.
Karena terlalu lama dianggap wajar, kritik terhadap patriarki sering diterima sebagai serangan personal. Banyak lelaki merasa feminisme berlebihan bukan karena ketimpangan itu tidak ada, melainkan karena mereka terbiasa hidup di posisi yang diuntungkan oleh keadaan.
Dan sering kali, manusia lebih mudah menyangkal privilege dibanding mengakuinya.
Baca juga: Perempuan, Rumah Tangga, dan Kelelahan Emosional
Mengapa Feminisme Dianggap Ancaman bagi Lelaki?
Di balik banyak penolakan terhadap feminisme, ada kegelisahan yang jarang dibicarakan secara jujur: ketakutan kehilangan posisi dominan.
Lelaki modern hidup di masa ketika perempuan semakin berani menentukan hidupnya sendiri. Perempuan bekerja, memimpin, bersuara, bahkan tidak lagi menggantungkan hidup pada relasi romantis. Perubahan ini seharusnya membuka kemungkinan hubungan yang lebih setara. Namun bagi sebagian lelaki, ia justru terasa mengancam.
Tidak sedikit lelaki yang mendukung perempuan mandiri selama posisi mereka tetap lebih tinggi. Mereka nyaman dengan perempuan pintar selama tidak terlalu kritis. Mendukung perempuan bekerja selama urusan domestik tetap dibebankan sepenuhnya kepada perempuan.
Di titik ini, feminisme menyentuh sesuatu yang paling sensitif: kuasa.
Filsuf Judith Butler menjelaskan bahwa gender bukan identitas alami yang tetap, melainkan sesuatu yang terus dibentuk oleh norma sosial dan pengulangan perilaku. Banyak lelaki akhirnya menjalankan maskulinitas seperti peran yang diwariskan turun-temurun—bahkan ketika peran itu membuat mereka sendiri lelah.
Karena itu, ketika feminisme datang membawa gagasan kesetaraan, sebagian lelaki merasa identitasnya ikut goyah. Jika lelaki tidak lagi otomatis menjadi pusat otoritas, lalu nilai dirinya harus dibangun dari apa?
Pertanyaan itu penting. Sebab terlalu banyak lelaki diajarkan mencari harga diri melalui kuasa atas orang lain.
Padahal relasi yang sehat tidak pernah lahir dari dominasi. Ia lahir dari kemampuan melihat orang lain sebagai manusia yang setara.
Referensi
- Connell, R.W. Masculinities. University of California Press, 1995.
- Bourdieu, Pierre. Masculine Domination. Stanford University Press, 2001.
- Butler, Judith. Gender Trouble. Routledge, 1990.
- hooks, bell. The Will to Change: Men, Masculinity, and Love. Washington Square Press, 2004.
- Ahmed, Sara. Living a Feminist Life. Duke University Press, 2017.









