
Lagu Erika HMT ITB dan Budaya Misogini Kampus
May 7, 2026
Ibuisme Negara dan Warisan Patriarki Orde Baru
May 8, 2026Ada perubahan besar dalam kehidupan perempuan Indonesia dalam dua dekade terakhir. Perempuan kini semakin banyak hadir di ruang publik, memiliki pendidikan tinggi, bekerja di sektor profesional, hingga terlibat dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga. Namun di balik perubahan itu, ada satu hal yang tampaknya tidak benar-benar bergeser: tuntutan agar perempuan tetap menjadi pusat pengasuhan, pusat emosi keluarga, sekaligus penjaga moral rumah tangga.
Modernitas ternyata tidak sepenuhnya membebaskan perempuan dari beban domestik. Ia justru menciptakan lapisan tuntutan baru. Perempuan hari ini tidak hanya diminta mandiri secara ekonomi, tetapi juga tetap mampu memenuhi standar lama tentang keibuan dan pengorbanan. Mereka harus sukses di ruang publik tanpa dianggap gagal di ruang domestik.
Situasi ini melahirkan paradoks sosial yang semakin terlihat di kota-kota besar Indonesia. Banyak perempuan mengalami kelelahan emosional, tetapi tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengakuinya. Mereka tetap dituntut tampil kuat, penuh kasih, dan mampu mengurus semua hal secara bersamaan. Dalam banyak kasus, perempuan akhirnya kehilangan ruang personalnya sendiri di tengah kewajiban untuk terus hadir bagi orang lain. Hal ini kemudian mengubah rumah tangga menjadi ruang yang menyerap seluruh identitas perempuan.
Simak Juga: Rahim Dikorbankan Demi Industri
Perempuan dan Beban Pengasuhan
Dalam banyak keluarga Indonesia, pengasuhan masih dipahami sebagai tanggung jawab utama perempuan. Meskipun laki-laki semakin terlibat dalam pekerjaan domestik, struktur sosial tetap menempatkan ibu sebagai pusat pengelolaan rumah tangga. Perempuan dianggap pihak yang paling bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak, stabilitas emosi keluarga, hingga kualitas relasi antaranggota rumah.
Pandangan ini begitu mengakar sehingga sering terlihat alamiah. Ketika anak mengalami masalah perilaku atau pendidikan, ibu menjadi pihak pertama yang disalahkan. Ketika rumah tangga tidak harmonis, perempuan lebih sering diminta mengalah demi mempertahankan keluarga. Bahkan dalam situasi ketika perempuan juga bekerja penuh waktu, beban domestik tetap lebih banyak jatuh ke pundaknya.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perubahan sosial berjalan tidak sepenuhnya seimbang. Perempuan didorong aktif di ruang publik, tetapi norma lama mengenai pengasuhan tidak benar-benar berubah. Akibatnya, perempuan menjalani beban ganda: produktif secara ekonomi sekaligus bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaan domestik.
Persoalan ini semakin kompleks karena kerja pengasuhan sering tidak dianggap sebagai kerja yang memiliki nilai ekonomi dan sosial setara. Mengurus rumah, merawat anak, menjaga suasana emosional keluarga, hingga memastikan kebutuhan domestik berjalan baik dianggap bagian dari “kodrat perempuan”. Padahal aktivitas tersebut menyita tenaga, waktu, dan energi psikologis yang sangat besar.
Dalam praktik sehari-hari, banyak perempuan akhirnya hidup dalam ritme tanpa jeda. Pagi dimulai dengan pekerjaan domestik, dilanjutkan pekerjaan profesional, lalu kembali pada urusan rumah tangga di malam hari. Situasi ini berlangsung terus-menerus tanpa ruang pemulihan yang memadai.
Ironisnya, budaya masyarakat justru sering memuji perempuan yang mampu bertahan dalam tekanan tersebut. Sosok ibu yang sanggup mengurus semuanya sendiri dianggap ideal dan inspiratif. Ketahanan perempuan diperlakukan sebagai kewajaran, bukan sebagai tanda adanya distribusi beban yang timpang di dalam keluarga. Akibatnya, kelelahan perempuan menjadi sesuatu yang tidak terlihat.
Baca Juga: Jerat Bank Keliling Mengikat Perempuan
Rumah Tangga dan Kelelahan Emosional
Selain beban fisik, perempuan juga menanggung pekerjaan emosional yang sering tidak disadari. Dalam banyak keluarga, perempuan menjadi pihak yang menjaga suasana tetap stabil. Mereka memastikan konflik tidak membesar, menjaga kebutuhan emosional anak, memahami pasangan, bahkan menekan emosinya sendiri demi mempertahankan keharmonisan rumah tangga.
Pekerjaan emosional ini berlangsung terus-menerus dan sering kali tidak memiliki batas yang jelas. Perempuan dituntut selalu hadir secara psikologis, bahkan ketika dirinya sendiri sedang lelah. Mereka harus tetap sabar, tetap lembut, dan tetap mampu mengelola emosi orang lain.
Di media sosial, tekanan itu semakin diperkuat oleh munculnya citra “ibu sempurna”. Kehidupan keluarga ditampilkan dalam visual yang tertata: rumah bersih, anak bahagia, tubuh tetap terawat, pekerjaan berjalan lancar, dan hubungan keluarga tampak harmonis. Gambaran tersebut menciptakan standar sosial baru yang sulit dicapai banyak perempuan.
Akibatnya, banyak perempuan merasa gagal ketika realitas hidup mereka tidak sesuai dengan gambaran ideal tersebut. Mereka mulai mempertanyakan kapasitas dirinya sebagai ibu, istri, atau perempuan secara umum. Padahal standar itu sendiri sering tidak realistis.
Dalam konteks ini, media sosial bukan hanya ruang berbagi pengalaman, tetapi juga ruang reproduksi tekanan sosial terhadap perempuan. Kehidupan domestik berubah menjadi arena performa yang menuntut perempuan selalu terlihat mampu mengendalikan semuanya.
Situasi tersebut berdampak langsung pada kesehatan mental perempuan. Banyak ibu mengalami kelelahan emosional berkepanjangan, tetapi kesulitan mencari ruang aman untuk membicarakannya. Mengeluh sering dianggap sebagai bentuk ketidaksyukuran. Sementara kebutuhan perempuan untuk beristirahat masih kerap dipandang sebagai sesuatu yang egois, dan manusia memiliki batas.
Tidak ada individu yang mampu terus memberi perhatian, tenaga, dan emosi tanpa mengalami kelelahan. Namun dalam budaya yang memuliakan pengorbanan perempuan, kebutuhan personal ibu sering kali justru ditempatkan di urutan terakhir.
Di titik itu, rumah tangga tidak lagi sekadar ruang kasih sayang. Ia juga bisa menjadi ruang yang secara perlahan mengikis identitas personal perempuan.
Kehilangan Diri di Dalam Rumah
Salah satu dampak paling besar dari tekanan domestik terhadap perempuan adalah hilangnya ruang personal. Banyak perempuan akhirnya hidup hampir sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Identitas mereka melebur ke dalam fungsi sosial sebagai ibu dan istri.
Kondisi ini sering berlangsung perlahan dan tidak disadari. Perempuan mulai kehilangan waktu untuk dirinya sendiri, berhenti menjalankan aktivitas yang dulu disukai, membatasi relasi sosial, hingga tidak lagi memiliki ruang untuk mengenali keinginannya sendiri. Seluruh energi diarahkan pada keluarga.
Dalam banyak kasus, perempuan baru menyadari kehilangan itu ketika anak mulai tumbuh besar atau ketika relasi rumah tangga mengalami perubahan. Mereka merasa asing terhadap dirinya sendiri karena terlalu lama hidup dalam ritme pengabdian tanpa jeda.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa persoalan perempuan di dalam rumah tangga bukan semata soal pekerjaan domestik, tetapi juga soal identitas. Budaya sosial selama bertahun-tahun membentuk keyakinan bahwa perempuan yang baik adalah perempuan yang mendahulukan orang lain dibanding dirinya sendiri.
Akibatnya, perempuan sering merasa bersalah ketika ingin memiliki ruang personal. Keinginan untuk beristirahat, mengejar karier, atau sekadar menikmati waktu sendiri kerap dianggap bertentangan dengan peran keibuan. Padahal perempuan tetap individu yang memiliki kebutuhan emosional, ambisi, dan hak atas dirinya sendiri.
Perubahan cara pandang terhadap perempuan menjadi penting untuk membangun relasi keluarga yang lebih sehat. Pengasuhan dan pekerjaan domestik tidak seharusnya dibebankan hanya kepada perempuan. Tanggung jawab tersebut perlu dipahami sebagai kerja kolektif dalam keluarga.
Selain itu, masyarakat juga perlu berhenti menempatkan perempuan sebagai simbol pengorbanan tanpa batas. Menjadi ibu tidak seharusnya berarti kehilangan identitas personal. Perempuan tetap berhak memiliki hidup di luar perannya dalam rumah tangga.
Sebab keluarga yang sehat tidak dibangun dari penghapusan diri perempuan, melainkan dari relasi yang memungkinkan setiap individu tetap tumbuh sebagai manusia utuh.
Persoalan terbesar bukan terletak pada perempuan yang memilih menjadi ibu atau mengurus keluarga. Persoalannya muncul ketika masyarakat hanya memberi penghargaan kepada perempuan sejauh mereka mampu terus memberi tanpa pernah meminta ruang untuk dirinya sendiri.
Dan mungkin di situlah banyak perempuan diam-diam mulai merasa lelah: ketika hidup mereka sepenuhnya dibutuhkan semua orang, tetapi perlahan tidak lagi benar-benar menjadi miliknya sendiri.






