
Tiga Wajah dalam Satu Cermin: Oligarki, Retorika, dan Sentralisasi Modal
June 24, 2026Sofi Gracia Padang
Mahasiswa Psikologi Dan Kader Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Komisariat UHN Medan
Saya pernah percaya bahwa penampilan bukanlah sesuatu yang terlalu penting. Saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, perhatian saya lebih banyak tertuju pada belajar dan bermain bersama teman-teman. Namun, keyakinan itu perlahan berubah ketika komentar-komentar tentang fisik saya terus berdatangan. Awalnya saya menganggapnya sebagai candaan biasa, tetapi ketika komentar itu terus diulang, saya mulai mempertanyakan nilai diri saya sendiri.
“Kamu kurus banget, seperti orang kurang gizi.”
“Kok wajahmu penuh jerawat begitu?”
“Kamu cewek kok bungkuk, jelek tau.”
Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang. Namun, bagi mereka yang menerimanya setiap hari, komentar tersebut dapat berubah menjadi luka yang perlahan menggerus rasa percaya diri. Tanpa disadari, kebiasaan mengomentari fisik orang lain merupakan bentuk body shaming, yaitu tindakan mengejek, merendahkan, atau memberikan komentar negatif terhadap kondisi fisik seseorang.
Sayangnya, di tengah masyarakat, body shaming sering kali dianggap sebagai candaan, bentuk perhatian, bahkan kritik yang membangun. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa komentar negatif mengenai penampilan dapat berdampak pada kepercayaan diri, citra diri (body image), hingga kesehatan mental seseorang.
Tulisan ini lahir dari pengalaman pribadi. Saya ingin menunjukkan bahwa luka akibat body shaming memang nyata, tetapi seseorang juga dapat bangkit dan menemukan kembali nilai dirinya.
Di masyarakat, mengomentari perubahan fisik telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. Ketika bertemu seseorang setelah lama tidak berjumpa, pertanyaan pertama sering kali bukan mengenai kabarnya, melainkan mengenai berat badan, warna kulit, atau kondisi wajahnya. Kebiasaan ini berlangsung begitu lama hingga dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Padahal, tidak semua orang mampu menerima komentar tersebut dengan santai. Ada orang yang memang memiliki kondisi medis tertentu, seperti skoliosis, gangguan hormon, atau masalah kulit yang tidak dapat diatasi secara instan. Ketika komentar negatif terus diterima, bukan hanya fisik yang menjadi sorotan, tetapi juga harga diri seseorang.
Kondisi ini bahkan perlu mendapat perhatian sejak usia dini. Anak-anak belajar dari lingkungan sekitarnya. Melalui Social Learning Theory yang dikemukakan oleh Albert Bandura, dijelaskan bahwa manusia mempelajari perilaku melalui proses mengamati, mengingat, meniru, dan mengulang perilaku yang dilihatnya. Ketika anak melihat orang dewasa menjadikan body shaming sebagai sesuatu yang lumrah, mereka berpotensi meniru perilaku tersebut tanpa memahami dampaknya.
Karena itu, pendidikan mengenai empati dan penghargaan terhadap sesama harus dimulai dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial. Anak-anak perlu diajarkan bahwa setiap orang memiliki kondisi fisik yang berbeda dan tidak layak dijadikan bahan ejekan.
Fenomena body shaming juga menunjukkan adanya perbedaan berdasarkan gender. Perempuan lebih sering dinilai berdasarkan penampilan fisiknya, sedangkan laki-laki lebih sering diukur melalui standar maskulinitas, tinggi badan, bentuk tubuh, maupun status sosial. Meski demikian, pada dasarnya siapa pun dapat menjadi korban body shaming.
Dampak body shaming tidak hanya ditentukan oleh isi komentar yang diberikan, tetapi juga oleh seberapa sering komentar tersebut diulang, siapa yang mengatakannya, dan bagaimana kondisi psikologis orang yang menerimanya. Komentar yang sama dapat memberikan dampak yang berbeda pada setiap individu.
Saya pernah berada di titik ketika jerawat di wajah membuat saya kehilangan rasa percaya diri. Komentar yang saya terima bukan hanya berasal dari orang-orang terdekat, tetapi juga dari orang yang bahkan tidak mengenal saya. Lebih menyakitkan lagi ketika komentar tersebut disertai ekspresi jijik. Perlahan saya mulai percaya bahwa orang hanya melihat kekurangan saya, bukan siapa diri saya sebenarnya.
Akibatnya, saya menjadi enggan tampil di depan umum dan sering merasa rendah diri. Saat itu saya benar-benar membiarkan penilaian orang lain menentukan cara saya memandang diri sendiri.
Perubahan mulai terjadi ketika saya merantau untuk kuliah. Saya bertemu seorang teman yang memiliki kepercayaan diri luar biasa. Ia sering menerima komentar mengenai berat badannya, tetapi ia mampu meresponsnya dengan santai tanpa kehilangan rasa percaya dirinya. Ia mengenal dirinya, menerima dirinya, dan tidak membiarkan komentar orang lain menentukan harga dirinya.
Lebih dari itu, ia selalu mengingatkan saya untuk melihat kelebihan yang saya miliki, bukan hanya kekurangan saya. Tanpa saya sadari, lingkungan yang positif perlahan mengubah cara saya memandang diri sendiri.
Pengalaman tersebut mengingatkan saya bahwa lingkungan memang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian seseorang. Namun, pengaruh terbesar tetap berasal dari bagaimana seseorang memaknai dirinya sendiri.
Pemahaman itu semakin kuat ketika saya membaca buku Man’s Search for Meaning karya Viktor Frankl. Salah satu gagasan yang paling membekas bagi saya adalah bahwa penderitaan yang masih dapat diatasi seharusnya dihadapi dengan usaha untuk menghilangkan penyebabnya, bukan dengan menyerah kepada keadaan.
Saya akhirnya memahami bahwa saya memang tidak bisa menghentikan orang lain untuk berkomentar mengenai fisik saya. Namun, saya memiliki kebebasan untuk menentukan apakah komentar tersebut akan menjadi suara yang menguasai pikiran saya atau tidak.
Pengalaman saya juga dapat dijelaskan melalui teori Triadic Reciprocal Determinism dari Albert Bandura. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku manusia terbentuk melalui hubungan timbal balik antara faktor personal, perilaku, dan lingkungan.
Lingkungan yang dipenuhi komentar negatif memang sempat membentuk cara saya memandang diri sendiri. Akan tetapi, ketika saya mulai mengubah cara berpikir, menerima diri, dan terus berusaha memperbaiki hal-hal yang memang bisa saya ubah, pengaruh lingkungan itu perlahan kehilangan kekuatannya.
Hari ini jerawat di wajah saya memang belum sepenuhnya hilang. Bekasnya masih ada. Namun, yang berubah adalah cara saya memandang diri sendiri. Saya tetap merawat diri bukan karena ingin memenuhi standar kecantikan orang lain, melainkan sebagai bentuk penghargaan terhadap diri saya sendiri.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa kita tidak akan pernah mampu mengendalikan apa yang dikatakan orang lain. Akan selalu ada komentar, penilaian, bahkan ejekan. Namun, kita selalu memiliki pilihan untuk menentukan apakah suara-suara itu akan menentukan nilai diri kita.
Karena sejatinya, nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh bentuk tubuh, warna kulit, tinggi badan, ataupun jerawat di wajahnya. Nilai diri dibentuk oleh karakter, keberanian untuk bangkit, kemampuan menerima diri, dan kemauan untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Membangun masyarakat yang bebas dari body shaming tentu menjadi tanggung jawab bersama. Namun, di saat yang sama, setiap individu juga perlu membangun kekuatan dari dalam dirinya. Sebab ketika seseorang telah mengenal dan menerima dirinya sendiri, komentar negatif orang lain tidak lagi memiliki kuasa untuk menentukan siapa dirinya.
Body shaming mungkin masih akan ada. Namun, hari ini saya memilih untuk tidak lagi membiarkannya menentukan nilai diri saya.


