
Rape Academy Mengguncang Dunia
April 18, 2026
Hannah Arendt Menulis dalam Sunyi
April 18, 2026Rape Academy dari Kacamata Susan Brownmiller
Selama bertahun-tahun, masyarakat sering memahami pemerkosaan sebagai kejahatan yang lahir dari nafsu yang tidak terkendali. Pelaku dianggap “khilaf”, terbawa dorongan seksual, atau kehilangan akal sehat sesaat. Cara pandang ini terdengar sederhana, tetapi justru berbahaya, karena membuat kekerasan seksual terlihat seperti ledakan spontan yang tidak memiliki akar sosial. Padahal, dalam banyak kasus, pemerkosaan bukan soal seks. Ia adalah soal kuasa.
Pemikiran ini dijelaskan secara tajam oleh Susan Brownmiller dalam bukunya yang berjudul Against Our Will: Men, Women and Rape yang terbit pada 1975. Buku ini menjadi salah satu karya penting dalam studi feminisme karena membongkar cara masyarakat melihat pemerkosaan. Brownmiller menolak gagasan bahwa pemerkosaan adalah hasil dari hasrat seksual semata. Menurutnya, pemerkosaan adalah alat dominasi, cara untuk mempertahankan ketakutan perempuan, dan bentuk kontrol sosial yang sangat sistematis.
Kalimatnya yang paling terkenal berbunyi: rape is a conscious process of intimidation by which all men keep all women in a state of fear. Pemerkosaan adalah proses intimidasi sadar yang membuat semua perempuan hidup dalam rasa takut. Pernyataan ini mengubah cara banyak orang membaca kekerasan seksual. Korbannya bukan hanya perempuan yang diperkosa secara langsung, tetapi seluruh perempuan yang hidup dalam bayang-bayang ancaman itu.
Jika teori ini dibawa ke fenomena yang kini dikenal sebagai rape academy, kita melihat betapa relevannya pemikiran Brownmiller, bahkan puluhan tahun setelah bukunya terbit.
Investigasi CNN pada 2026 mengungkap adanya komunitas online global tempat laki-laki saling berbagi cara membius pasangan mereka sendiri, memperkosa saat korban tidak sadar, merekam tindakan itu, lalu mendiskusikan bagaimana menghindari deteksi hukum. Mereka berbagi dosis obat tidur, teknik manipulasi psikologis, cara menghapus jejak digital, bahkan bagaimana membuat korban meragukan ingatannya sendiri. Tidak ada sekolah formal, tetapi cara kerjanya menyerupai ruang belajar. Karena itulah publik menyebutnya sebagai rape academy.
Fenomena ini mencuat setelah persidangan Gisèle Pelicot di Prancis. Selama hampir satu dekade, ia tidak mengetahui bahwa suaminya sendiri, Dominique Pelicot, telah membiusnya berulang kali dan mengundang puluhan pria untuk memperkosanya saat ia tidak sadar. Dominique merekam semuanya. Ketika polisi menemukan bukti itu, publik dikejutkan bukan hanya oleh kejahatan individualnya, tetapi oleh fakta bahwa ia terhubung dengan komunitas lain yang melakukan praktik serupa.
Banyak orang bertanya: bagaimana mungkin seseorang melakukan hal seperti itu terhadap istrinya sendiri? Pertanyaan ini penting, tetapi teori Brownmiller mengajak kita melihat lebih jauh. Fokusnya bukan hanya pada pelaku, tetapi pada sistem yang membuat pelaku merasa berhak.
Dalam kerangka Brownmiller, pemerkosaan bukan tindakan seksual, tetapi pernyataan kekuasaan. Ketika seorang laki-laki membius istrinya dan membiarkan orang lain memperkosanya, yang sedang dipertontonkan bukan hasrat, melainkan kepemilikan. Tubuh perempuan diperlakukan sebagai wilayah yang bisa dikendalikan sepenuhnya. Dalam konteks itu, hubungan pernikahan tidak menjadi ruang aman, tetapi justru menjadi alat legitimasi.
Ini juga menjelaskan mengapa banyak korban kekerasan seksual berasal dari relasi terdekat, seperti pasangan, suami, pacar, anggota keluarga, atau orang yang dipercaya. Kekerasan seksual tidak selalu datang dari orang asing di tempat gelap. Sering kali, ia datang dari rumah sendiri. Dari seseorang yang setiap hari mengatakan “aku mencintaimu.”
Brownmiller menunjukkan bahwa patriarki bekerja dengan cara yang sangat halus. Perempuan dibesarkan dengan kesadaran untuk selalu waspada: jangan pulang malam, jangan berjalan sendiri, jangan terlalu percaya pada orang. Namun, yang jarang dibicarakan adalah bagaimana laki-laki dibesarkan dengan gagasan bahwa mereka memiliki akses lebih besar terhadap tubuh perempuan.
Rape academy adalah bentuk modern dari sistem itu. Jika dulu kekerasan seksual dilakukan diam-diam dan tersembunyi, kini internet memberi ruang baru untuk memperluasnya. Pelaku tidak lagi merasa sendirian. Mereka menemukan komunitas, dukungan, bahkan validasi moral. Sesuatu yang seharusnya dianggap kejahatan berubah menjadi praktik yang dinormalisasi.
Inilah yang membuat rape academy sangat berbahaya. Ia bukan sekadar forum cabul, tetapi ekosistem sosial yang mengubah kekerasan menjadi pengetahuan. Ada “mentor”, ada panduan, ada apresiasi dari sesama pelaku. Pemerkosaan diperlakukan seperti keterampilan yang bisa dipelajari.
Brownmiller sejak awal menekankan bahwa kekerasan seksual tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terkait dengan struktur sosial yang lebih besar. Ketika korban takut melapor karena malu, ketika masyarakat lebih sibuk mempertanyakan pakaian korban daripada tindakan pelaku, ketika hukum berjalan lambat dan platform digital lamban bertindak—semua itu adalah bagian dari sistem yang sama.
Korban seperti Gisèle Pelicot sering kali bukan hanya kehilangan rasa aman, tetapi juga kehilangan kepercayaan pada relasi paling dasar: rumah, pasangan, dan tubuhnya sendiri. Banyak korban bahkan tidak sadar bahwa mereka telah diperkosa karena serangan terjadi saat tidur atau setelah dibius. Dalam kasus seperti ini, rasa trauma bercampur dengan rasa tidak percaya pada realitas sendiri.
Yang membuat Gisèle berbeda adalah keberaniannya untuk tidak diam. Ia membuka persidangan untuk publik dan menolak menyembunyikan identitasnya. Ia menolak rasa malu yang selama ini selalu dipindahkan kepada korban. Tindakannya menjadi simbol penting bahwa rasa malu seharusnya berada di pihak pelaku, bukan perempuan yang tubuhnya dijadikan arena kekuasaan.
Melalui pemikiran Susan Brownmiller, kita bisa melihat bahwa rape academy bukan penyimpangan yang muncul tiba-tiba dari internet. Ia adalah wajah baru dari sistem lama: patriarki yang selalu mencari cara untuk mempertahankan dominasi. Teknologi hanya mempercepatnya.
Selama masyarakat masih melihat pemerkosaan sebagai “urusan pribadi” atau “kesalahan individu”, kita akan gagal memahami akar masalahnya. Yang harus dibongkar bukan hanya satu pelaku, satu forum, atau satu kasus. Yang harus dibongkar adalah keyakinan bahwa perempuan bisa dikontrol, dimiliki, dan dibungkam.
Brownmiller mengingatkan bahwa pemerkosaan adalah alat intimidasi sosial. Melawannya bukan hanya soal menghukum pelaku, tetapi mengubah budaya yang memungkinkan kekerasan itu tumbuh. Selama rasa takut masih diwariskan kepada perempuan, sementara rasa berkuasa diwariskan kepada laki-laki, maka rape academy akan selalu menemukan bentuk baru.
Pelajaran paling penting dari kasus ini adalah kekerasan seksual tidak lahir dari ruang kosong, namun lahir dari sistem yang terlalu lama membiarkannya terlihat normal.



