
Darurat Kekerasan Seksual Global
April 17, 2026
Rape Academy dari Kacamata Susan Brownmiller
April 18, 2026Rape Academy Mengguncang Dunia
Dunia kembali dipaksa menatap wajah paling gelap dari kekerasan seksual. Bukan di gang sempit, bukan di sudut kota yang tersembunyi, tetapi di layar ponsel, forum online, dan grup percakapan yang bisa diakses siapa saja. Investigasi CNN pada Maret 2026 mengungkap keberadaan jaringan global yang disebut banyak pihak sebagai “rape academy”, sebuah komunitas digital tempat laki-laki saling mengajarkan cara membius, memperkosa, dan mengeksploitasi pasangan mereka sendiri.
Istilah “rape academy” memang bukan nama resmi sebuah organisasi. Tidak ada gedung, papan nama, atau struktur formal seperti institusi pendidikan pada umumnya. Namun pola kerjanya menyerupai ruang belajar yang terorganisir: ada mentor, ada diskusi, ada panduan langkah demi langkah, bahkan ada validasi sosial dari sesama pelaku. Karena itulah istilah ini digunakan, karena kekerasan seksual diperlakukan layaknya pelajaran yang bisa dipelajari dan diwariskan.
Kasus ini mulai mendapat perhatian dunia setelah persidangan Gisèle Pelicot di Prancis. Perempuan itu selama bertahun-tahun tidak mengetahui bahwa suaminya sendiri, Dominique Pelicot, telah membiusnya berulang kali dan mengundang puluhan pria untuk memperkosanya saat ia tidak sadar. Dominique merekam aksi tersebut dan menyimpannya. Polisi menemukan bukti itu setelah ia ditangkap dalam kasus lain, dan dari situlah terungkap bahwa kekerasan itu berlangsung selama hampir satu dekade. Pada 2024, Dominique bersama puluhan pelaku lain dinyatakan bersalah. Ia dijatuhi hukuman maksimal 20 tahun penjara. (CNN)
Namun persidangan itu membuka fakta yang lebih besar: Dominique bukan pelaku tunggal. Ia bagian dari jaringan yang lebih luas. Dalam penyelidikan, diketahui bahwa ia menggunakan platform percakapan seperti Coco untuk berkomunikasi dengan laki-laki lain yang memiliki pola serupa. Setelah situs itu ditutup oleh otoritas Prancis pada 2024, jurnalis CNN mulai menyelidiki apakah komunitas seperti itu masih hidup di tempat lain. Jawabannya: ya, dan jumlahnya jauh lebih besar dari yang dibayangkan. (Apple Podcasts)
Tim investigasi CNN menemukan grup serupa di Telegram, forum pornografi, dan berbagai situs niche yang tidak dikenal publik luas. Di sana, para anggota saling bertukar “tips” tentang bagaimana membius pasangan menggunakan obat tidur seperti zolpidem, kapan waktu terbaik melakukannya, bagaimana menghindari kecurigaan, hingga cara menyembunyikan bukti. Mereka juga membagikan foto dan video kekerasan yang mereka lakukan sebagai bentuk pembuktian dan pengakuan dari komunitas. (Apple Podcasts)
Yang membuat kasus ini semakin mengerikan adalah korban utamanya bukan orang asing, melainkan istri, pacar, atau pasangan sendiri. Orang yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru menjadi pelaku utama. Banyak korban bahkan tidak sadar telah diperkosa karena kejadian berlangsung saat mereka tidur atau setelah dibius. Dalam banyak kasus, korban baru mengetahui kebenaran bertahun-tahun kemudian—atau tidak pernah mengetahuinya sama sekali.
Bentuk kekerasan ini dikenal sebagai drug-facilitated sexual assault (DFSA), yaitu kekerasan seksual yang dilakukan dengan bantuan obat penenang atau zat tertentu untuk melumpuhkan korban. Jenis kekerasan ini sangat sulit dibuktikan karena korban sering kehilangan ingatan, tidak langsung memeriksakan diri, atau justru menyalahkan dirinya sendiri karena merasa “tidak yakin” apa yang sebenarnya terjadi.
Mengapa komunitas seperti ini bisa tumbuh? Jawabannya bukan hanya soal teknologi, tetapi juga budaya misogini yang sudah lama hidup. Internet hanya menjadi ruang yang mempercepatnya. Di dalam grup-grup itu, perempuan tidak dipandang sebagai manusia utuh, melainkan objek yang bisa dikendalikan. Yang dibicarakan bukan seks, melainkan kuasa. Pelaku merasa memiliki hak atas tubuh pasangan mereka, dan komunitas itu memberi mereka pembenaran.
Anonimitas digital juga membuat batas moral semakin runtuh. Ketika seseorang melihat ratusan orang lain melakukan hal yang sama tanpa konsekuensi langsung, rasa bersalah perlahan menghilang. Kekerasan menjadi sesuatu yang dinormalisasi. Bahkan beberapa situs memberi “status” atau pengakuan bagi pengguna aktif, menciptakan budaya penghargaan terhadap tindakan kriminal.
Masalah lain adalah lemahnya moderasi platform dan lambatnya respons hukum. Banyak grup hanya ditutup setelah sorotan media besar. Bahkan ketika satu grup dibubarkan, grup lain segera muncul dengan nama berbeda. Ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan hanya pada satu platform, tetapi pada ekosistem yang memungkinkan kekerasan itu terus hidup.
Bagi korban, dampaknya jauh melampaui luka fisik. Ada kehancuran kepercayaan, trauma psikologis, rasa malu, dan pertanyaan paling menyakitkan: bagaimana seseorang yang dicintai bisa melakukan ini? Banyak korban memilih diam karena pelakunya adalah pasangan sendiri. Mereka takut tidak dipercaya, takut dipermalukan, atau takut dianggap melebih-lebihkan.
Gisèle Pelicot memilih jalan berbeda. Ia menolak diam. Ia membuka persidangan untuk publik dan menolak menyembunyikan identitasnya. Kalimatnya menjadi simbol perlawanan perempuan di seluruh dunia: rasa malu harus berpindah sisi—bukan pada korban, tetapi pada pelaku.
Kasus “rape academy” menunjukkan bahwa kekerasan seksual tidak selalu datang dari orang asing di tempat gelap. Kadang, ia datang dari meja makan, dari tempat tidur sendiri, dari seseorang yang setiap hari mengatakan “aku mencintaimu.”
Kasus ini begitu menakutkan adalah hal ini bukan sekadar berita kriminal, namun adalah alarm global bahwa misogini, kekuasaan, dan teknologi dapat bergabung menjadi bentuk kekerasan yang sangat terstruktur. Ketika kejahatan diajarkan seperti kurikulum, maka diam bukan lagi pilihan.



