
Terang Kartini yang Bertahan
April 22, 2026
Monstrous Feminine Dalam Budaya
April 23, 2026Ada satu cerita yang terus berulang, pelan tapi konsisten: perempuan diajarkan untuk melihat tubuhnya sebagai sesuatu yang bisa—dan seharusnya—diperbaiki. Bukan karena tubuh itu rusak, melainkan karena selalu ada standar yang bergerak sedikit lebih jauh dari jangkauan. Di ruang inilah operasi plastik menemukan tempatnya, bukan sekadar sebagai praktik medis atau pilihan estetik, tetapi sebagai bagian dari narasi yang lebih besar tentang bagaimana perempuan memahami dirinya sendiri.
Di permukaan, keputusan untuk menjalani operasi plastik tampak sebagai ekspresi kebebasan. Ia sering dibungkus dengan bahasa yang terdengar memberdayakan: self-love, self-improvement, menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Namun bahasa ini tidak pernah benar-benar netral. Ia lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang telah lebih dulu menetapkan apa itu “terbaik”, apa itu “cantik”, dan apa yang layak diinginkan. Ketika seorang perempuan mengatakan ia ingin mengubah bentuk hidungnya, misalnya, keinginan itu tidak muncul dari ruang kosong. Ia adalah hasil dari paparan panjang terhadap citra-citra tertentu yang diulang, dinormalisasi, lalu diinternalisasi.
Pemikiran Naomi Wolf dalam The Beauty Myth membantu membaca situasi ini dengan lebih jernih. Wolf menunjukkan bahwa standar kecantikan modern bukan sekadar tren, melainkan mekanisme yang bekerja seiring dengan dinamika kekuasaan. Ketika perempuan mulai mendapatkan ruang di ranah publik, kontrol terhadap mereka tidak hilang—ia hanya bergeser bentuk. Tubuh menjadi arena baru. Alih-alih dibatasi secara langsung, perempuan didorong untuk membatasi dirinya sendiri, mengejar standar yang terus berubah dan tidak pernah benar-benar bisa dicapai. Dalam konteks ini, operasi plastik bukan anomali, melainkan konsekuensi logis.
Hal ini menjadi semakin kompleks ketika kita melihat bagaimana media berperan. Layar—baik itu televisi, majalah, maupun media sosial—tidak hanya menampilkan kecantikan, tetapi juga mendefinisikannya. Wajah-wajah yang muncul berulang kali membentuk semacam cetakan kolektif: kulit yang bersih tanpa pori, rahang yang tegas, hidung yang ramping, tubuh yang proporsional. Apa yang awalnya hanya salah satu kemungkinan, perlahan berubah menjadi standar. Dalam Unbearable Weight, Susan Bordo menyebut tubuh perempuan sebagai “teks budaya”—sesuatu yang dibaca, ditafsirkan, dan dinilai berdasarkan norma yang berlaku. Ketika norma itu sempit, maka variasi tubuh yang luas justru dianggap sebagai penyimpangan.
Di sinilah pasar masuk dan bekerja dengan sangat efektif. Industri kecantikan dan medis estetika tidak menciptakan standar dari nol, tetapi mereka memanfaatkannya, memperkuatnya, lalu menjual solusi atas ketidakpuasan yang dihasilkan. Ada logika yang sederhana namun kuat: rasa kurang menciptakan kebutuhan, dan kebutuhan menciptakan konsumsi. Prosedur seperti rhinoplasty, filler, atau liposuction kemudian tidak hanya menjadi layanan, tetapi juga janji—janji untuk mendekatkan seseorang pada versi ideal yang terus dipromosikan.
Namun, yang membuat fenomena ini bertahan bukan hanya tekanan eksternal, melainkan bagaimana tekanan itu menjadi bagian dari cara berpikir individu. Michel Foucault, melalui Discipline and Punish, menjelaskan bahwa kekuasaan modern bekerja dengan cara yang halus: ia tidak selalu memaksa, tetapi membentuk keinginan. Perempuan tidak perlu diperintah untuk mengubah tubuhnya; mereka belajar sendiri bahwa perubahan itu diinginkan, bahkan diperlukan. Ketika standar telah diinternalisasi, pilihan yang diambil terasa sepenuhnya personal, padahal ia adalah hasil dari proses panjang normalisasi.
Di titik ini, narasi self-love menjadi problematis. Bukan karena mencintai diri sendiri adalah sesuatu yang keliru, tetapi karena maknanya sering kali bergeser. Alih-alih menerima diri apa adanya, self-love kerap dimaknai sebagai upaya tanpa henti untuk menjadi lebih sesuai dengan standar tertentu. Ada paradoks yang sulit dihindari: tindakan yang disebut sebagai bentuk penerimaan diri justru berangkat dari asumsi bahwa diri tersebut belum cukup. Tubuh menjadi proyek yang tidak pernah selesai, selalu terbuka untuk diperbaiki, disempurnakan, dan disesuaikan.
Namun, penting untuk menjaga satu hal tetap jelas: kritik terhadap fenomena ini bukanlah kritik terhadap individu perempuan. Keputusan untuk menjalani operasi plastik tidak bisa direduksi menjadi sekadar “benar” atau “salah”. Setiap keputusan lahir dari konteks—dari pengalaman pribadi, tekanan sosial, peluang ekonomi, hingga kebutuhan untuk merasa diterima. Dalam banyak kasus, operasi plastik bahkan bisa menjadi strategi untuk bertahan dalam dunia yang secara nyata memberikan keuntungan pada mereka yang memenuhi standar tertentu.
Yang perlu dipersoalkan adalah kondisi yang membuat strategi itu terasa perlu. Ketika akses terhadap pekerjaan, relasi sosial, bahkan rasa percaya diri begitu erat dikaitkan dengan penampilan, maka tubuh tidak lagi sepenuhnya milik individu. Ia menjadi ruang negosiasi antara diri dan dunia luar. Dalam kondisi seperti ini, kebebasan menjadi relatif. Ia ada, tetapi dibatasi oleh kerangka yang tidak sepenuhnya kita kendalikan.
Fenomena operasi plastik, dengan demikian, tidak bisa dibaca hanya sebagai tren estetik. Ia adalah cermin dari hubungan yang kompleks antara tubuh, kekuasaan, dan ekonomi. Ia menunjukkan bagaimana standar kecantikan diproduksi, bagaimana ia disebarkan, dan bagaimana ia akhirnya dihidupi oleh individu. Selama standar itu tetap sempit dan terus didorong oleh logika pasar, insekuritas akan selalu menemukan cara untuk bertahan.
Dan mungkin di situlah letak persoalan yang paling mendasar: bukan pada pilihan untuk mengubah tubuh, tetapi pada dunia yang membuat tubuh terasa selalu perlu diubah.




