
Perempuan sebagai Alat Teror pada Kerusuhan Mei’98
April 12, 2026
Kekerasan Verbal yang Terus Dinormalisasi di Ruang Publik
April 12, 2026Internalized Misogyny dan Sisterhit
Sisterhood sering dibayangkan sebagai ruang hangat: tempat perempuan saling merangkul, berbagi cerita, dan merasa aman tanpa takut dihakimi. Namun di balik gambaran itu, ada realitas yang lebih jujur dan tidak selalu nyaman—fenomena sister hate, ketika perempuan justru saling menjatuhkan, mengkritik dengan tajam, atau diam-diam merasa tersaingi oleh satu sama lain.
Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dalam sistem yang sejak lama membentuk cara perempuan melihat diri sendiri dan perempuan lain. Sejak kecil, banyak perempuan sudah akrab dengan perbandingan: siapa yang lebih cantik, lebih pintar, lebih disukai, atau lebih “layak” mendapatkan perhatian. Standar ini terus direproduksi, baik melalui keluarga, lingkungan sosial, maupun media. Dalam kondisi seperti ini, relasi antar perempuan mudah bergeser dari solidaritas menjadi kompetisi.
Sister hate sering muncul dalam bentuk yang subtil. Komentar tentang tubuh yang dibungkus candaan, meremehkan pencapaian teman dengan nada bercanda, atau kebiasaan membicarakan perempuan lain di belakang sebagai bentuk “curhat”. Hal-hal ini kerap dianggap wajar, bahkan menjadi bagian dari dinamika pertemanan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, pola ini memperlihatkan bagaimana perempuan didorong untuk saling mengawasi dan menilai.
Di sinilah internalized misogyny bekerja. Ia tidak selalu hadir sebagai kebencian terang-terangan, tetapi sebagai cara berpikir yang sudah terlanjur dianggap normal. Perempuan bisa menjadi sangat kritis terhadap perempuan lain, terutama ketika ada yang keluar dari norma: terlalu percaya diri, terlalu vokal, atau memilih jalan hidup yang berbeda. Reaksi yang muncul sering kali bukan sekadar ketidaksetujuan, tetapi juga penolakan yang bersifat personal.
Seyward Derby pernah menyoroti bagaimana perempuan tanpa sadar bisa menjadi perpanjangan tangan sistem yang menekan mereka. Dalam relasi sehari-hari, perempuan bisa mengambil peran sebagai “penjaga standar”—menentukan siapa yang dianggap pantas, siapa yang berlebihan, dan siapa yang perlu “diturunkan”. Mekanisme ini membuat kontrol terhadap perempuan terasa lebih dekat dan lebih sulit dikenali, karena datang dari sesama perempuan.
Media sosial memperkuat dinamika ini. Platform digital memberi ruang besar bagi opini, tetapi juga mempercepat penilaian. Perempuan yang tampil berbeda mudah menjadi sasaran komentar, mulai dari penampilan hingga pilihan hidup. Konten yang memicu konflik sering lebih cepat viral dibandingkan konten yang menunjukkan dukungan. Akibatnya, narasi tentang perempuan yang saling serang terasa lebih dominan daripada cerita tentang solidaritas.
Sister hate juga berkaitan dengan rasa tidak aman yang jarang dibicarakan secara terbuka. Ketika perempuan merasa ruangnya terbatas—baik dalam karier, relasi, maupun pengakuan sosial—kehadiran perempuan lain bisa terasa seperti ancaman. Perasaan ini valid sebagai emosi, tetapi menjadi problematik ketika diarahkan pada individu lain, bukan pada sistem yang menciptakan keterbatasan itu.
Menghadapi fenomena ini membutuhkan keberanian untuk refleksi. Bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tetapi untuk mengenali pola yang mungkin pernah dilakukan. Pernah merasa tidak nyaman melihat perempuan lain berhasil? Pernah lebih cepat mengkritik daripada memberi ruang untuk memahami? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk membuka kesadaran bahwa sister hate bisa muncul dalam bentuk yang sangat manusiawi.
Langkah berikutnya adalah membangun ulang cara berelasi. Solidaritas tidak harus berarti selalu setuju. Perempuan tetap bisa berbeda pandangan tanpa harus menjatuhkan. Kritik bisa disampaikan tanpa merendahkan. Perbedaan pilihan hidup tidak perlu direspons dengan penilaian moral. Ruang yang aman bukan ruang tanpa konflik, tetapi ruang di mana konflik tidak berubah menjadi serangan personal.
Perempuan Bicara melihat bahwa sisterhood yang sehat adalah proses, bukan kondisi yang langsung jadi. Ia membutuhkan kesediaan untuk belajar, mendengarkan, dan mengakui bahwa setiap perempuan membawa pengalaman yang berbeda. Tidak semua orang memulai dari titik yang sama, dan tidak semua pilihan hidup bisa diukur dengan standar tunggal.
Melawan sister hate berarti juga menolak narasi bahwa perempuan adalah pesaing alami satu sama lain. Ruang untuk perempuan tidak sesempit yang sering dibayangkan. Ketika satu perempuan maju, itu tidak mengurangi kemungkinan perempuan lain untuk berkembang. Cara pandang ini perlu terus dilatih, terutama dalam lingkungan yang masih sering memelihara perbandingan.
Solidaritas bisa dimulai dari hal sederhana: memberi apresiasi tanpa syarat, menahan diri dari komentar yang tidak perlu, atau memilih untuk tidak ikut dalam percakapan yang menjatuhkan perempuan lain. Tindakan kecil seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi memiliki dampak besar dalam membentuk budaya yang lebih suportif.
Sisterhood bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang pilihan. Pilihan untuk tidak ikut memperpanjang siklus kebencian. Pilihan untuk melihat perempuan lain sebagai sesama manusia, bukan sebagai ancaman. Dan pilihan untuk membangun ruang yang lebih adil, dimulai dari cara kita berelasi satu sama lain.



