Ibuisme Negara dan Warisan Patriarki Orde Baru

Perempuan, Rumah Tangga, dan Kelelahan Emosional

May 8, 2026

Istri Indonesia Tidak Memiliki Nama

May 9, 2026

Ibuisme Negara dan Warisan Patriarki Orde Baru

Istilah Ibuisme Negara pertama kali diperkenalkan oleh Julia Suryakusuma untuk membaca bagaimana Orde Barumembentuk identitas perempuan melalui proyek politik negara. Pada masa itu, perempuan tidak hanya dipandang sebagai individu, melainkan sebagai alat sosial yang berfungsi menjaga stabilitas keluarga, moral masyarakat, dan pembangunan nasional.

Di bawah rezim Orde Baru, negara menyusun gambaran tentang perempuan ideal: istri yang patuh, ibu yang mengurus rumah tangga, pendamping suami, dan pengasuh anak-anak yang baik. Perempuan boleh bekerja atau tampil di ruang publik, tetapi identitas utamanya tetap dilekatkan pada keluarga. Negara seperti ingin memastikan bahwa modernitas tidak membuat perempuan keluar dari fungsi domestiknya.

Aku selalu merasa konsep ini penting dibicarakan kembali hari ini karena jejaknya belum benar-benar hilang. Bahkan setelah reformasi, perempuan Indonesia masih hidup dalam tekanan sosial yang menuntut mereka menjadi “ibu sempurna”, menjaga moral keluarga, tetap lembut, tetap cantik, dan tetap sanggup menanggung beban emosional rumah tangga.

Ibuisme negara mungkin lahir dari sejarah politik Orde Baru, tetapi warisannya masih hidup dalam budaya digital, media sosial, bahkan dalam cara kita berbicara tentang perempuan sehari-hari.

Baca: Riwayat Kerja PRT

Negara Masuk ke Dalam Rumah

Pada masa Orde Baru, negara tidak hanya mengontrol politik dan ekonomi, tetapi juga masuk ke dalam ruang domestik. Rumah tangga dijadikan bagian dari proyek pembangunan nasional. Perempuan diposisikan sebagai penyangga stabilitas sosial melalui perannya sebagai ibu dan istri.

Organisasi seperti PKK dan Dharma Wanita Persatuan menjadi instrumen penting dalam membentuk perempuan ideal versi negara. Di sana perempuan diajarkan tentang pengabdian, pengelolaan rumah tangga, pendidikan anak, hingga etika menjadi pendamping suami. Identitas perempuan akhirnya tidak berdiri sebagai subjek yang independen, tetapi melekat pada posisi laki-laki.

Aku sering merasa bahwa sejak kecil perempuan Indonesia sudah dibesarkan dalam bayang-bayang tuntutan itu. Anak perempuan diajarkan untuk lebih sabar, lebih halus, lebih mengalah, dan lebih bertanggung jawab terhadap urusan domestik. Bahkan ketika perempuan memiliki pendidikan tinggi dan pekerjaan mapan, masyarakat tetap menganggap rumah tangga sebagai tanggung jawab utamanya.

Di sini aku teringat pada pemikiran Michel Foucault tentang bagaimana kekuasaan bekerja melalui disiplin sosial. Negara tidak harus selalu menggunakan kekerasan langsung. Ia cukup menciptakan norma yang terus diulang sampai masyarakat percaya bahwa norma itu adalah sesuatu yang alamiah.

Ibuisme negara bekerja dengan cara seperti itu. Ia membuat perempuan merasa bersalah ketika tidak memenuhi standar keibuan tertentu. Perempuan akhirnya mengontrol dirinya sendiri karena takut dianggap gagal menjadi perempuan yang baik.

Yang menarik, mekanisme ini masih terasa sampai sekarang. Perempuan yang terlalu fokus pada karier sering dianggap kurang peduli keluarga. Perempuan yang memilih tidak menikah dipandang egois. Bahkan perempuan yang memilih tidak memiliki anak masih sering ditanya kapan akan “lengkap” menjadi perempuan.

Aku pikir itu menunjukkan bahwa ibuisme negara tidak benar-benar mati. Ia hanya berubah bentuk menjadi budaya sosial yang diwariskan terus-menerus.

Simak juga: Perempuan dalam Revolusi Tan Malaka

Ibu yang Tidak Boleh Lelah

Salah satu warisan paling kuat dari ibuisme negara adalah tuntutan bahwa perempuan harus selalu kuat. Ibu digambarkan sebagai sosok tanpa batas: sabar, penuh kasih, multitasking, rela berkorban, dan tetap mampu menjaga keharmonisan keluarga dalam kondisi apa pun. Masalahnya, gambaran itu nyaris tidak manusiawi.

Hari ini tekanan itu justru semakin besar lewat media sosial. Kita hidup dalam budaya yang memuja perempuan produktif sekaligus domestik. Seorang perempuan dianggap ideal ketika ia mampu bekerja, menghasilkan uang, mengurus rumah, membesarkan anak, menjaga tubuh tetap menarik, dan tetap tampil bahagia.

Aku sering melihat bagaimana kelelahan perempuan berubah menjadi estetika. Konten tentang ibu multitasking, perempuan yang “kuat menghadapi semuanya”, atau istri yang tetap tersenyum meski kelelahan terus dipuji sebagai inspirasi. Padahal di balik itu ada kerja emosional yang sangat besar dan sering tidak dianggap sebagai kerja.

Arlie Hochschild menyebut ini sebagai emotional labor, yaitu kerja mengelola emosi demi menjaga kenyamanan orang lain. Dalam banyak rumah tangga, perempuan menjadi pihak yang harus menjaga suasana tetap tenang, memastikan semua anggota keluarga merasa diperhatikan, bahkan menyembunyikan kelelahan dirinya sendiri.

Aku pikir banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa mencintai berarti mengorbankan diri terus-menerus. Mereka diajarkan untuk mendahulukan kebutuhan orang lain sebelum dirinya sendiri. Akibatnya, perempuan sering merasa bersalah ketika ingin beristirahat, ingin sendiri, atau memilih hidup yang tidak sesuai ekspektasi sosial.

Aku teringat pada pemikiran Silvia Federici tentang kerja reproduktif perempuan. Ia menjelaskan bahwa kerja domestik sebenarnya menopang sistem ekonomi karena perempuan menjaga keberlangsungan hidup sehari-hari: memasak, membersihkan rumah, merawat anak, hingga memulihkan tenaga anggota keluarga. Namun pekerjaan itu dianggap alami sehingga tidak dihargai secara setara.

Rumah tangga akhirnya terlihat seperti ruang cinta dan pengabdian semata, padahal di dalamnya ada relasi kuasa yang sangat besar. Ironisnya, perempuan yang gagal memenuhi standar “ibu ideal” sering menerima penghakiman sosial lebih keras dibanding laki-laki. Ketika anak dianggap bermasalah, ibu yang pertama kali disalahkan. Ketika rumah tangga retak, perempuan sering dianggap tidak cukup menjaga keluarga. Seolah-olah perempuan memikul tanggung jawab moral seluruh rumah tangga seorang diri.

Tubuh Perempuan sebagai Moral Bangsa

Ibuisme negara juga membuat tubuh perempuan menjadi simbol moral masyarakat. Cara perempuan berpakaian, berbicara, bergaul, hingga mengekspresikan dirinya terus diawasi secara sosial.

Aku merasa ini masih sangat terlihat di Indonesia hari ini. Ketika ada kasus kekerasan seksual, perempuan masih sering ditanya soal pakaian dan perilakunya. Ketika perempuan tampil terbuka di media sosial, komentar tentang moral lebih cepat muncul dibanding pembicaraan tentang kebebasan individu. Tubuh perempuan seperti tidak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri.

Masih merujuk pada pemikiran Simone de Beauvoir tentang perempuan sebagai “the Other”. Perempuan tidak dipandang sebagai manusia yang utuh untuk dirinya sendiri, tetapi selalu dilihat dalam kaitannya dengan orang lain: sebagai istri, ibu, anak perempuan, atau penjaga moral keluarga.

Karena itu perempuan sering hidup di bawah tekanan untuk terlihat “baik”. Mereka takut dianggap terlalu bebas, terlalu marah, terlalu ambisius, atau terlalu vokal. Bahkan kemarahan perempuan sering dipandang mengancam, sementara kemarahan laki-laki lebih mudah dianggap wajar atau tegas.

Aku pikir ini menjelaskan mengapa banyak perempuan tumbuh dengan rasa takut yang sangat dalam terhadap penilaian sosial. Mereka belajar sejak kecil bahwa penerimaan masyarakat sering bergantung pada kemampuan mereka memenuhi ekspektasi tertentu. Perempuan juga manusia yang bisa kecewa, lelah, egois, bahkan gagal. Dan itu seharusnya tidak membuat mereka kehilangan martabatnya.

Perempuan dan Warisan yang Belum Selesai

Sering kali kita menganggap Orde Baru hanya tinggal sejarah politik. Tetapi sebenarnya banyak warisan budayanya masih hidup sampai sekarang, terutama dalam cara masyarakat memandang perempuan.

Ibuisme negara tidak lagi hadir dalam slogan resmi negara seperti dulu, tetapi hidup dalam percakapan sehari-hari. Ia muncul ketika perempuan sukses tetap ditanya kapan menikah. Ia muncul ketika ibu dianggap penanggung jawab utama anak meski sama-sama bekerja. Ia muncul ketika perempuan dipuji karena mampu “mengurus semuanya” sendirian.

Aku merasa perempuan Indonesia hari ini hidup dalam kontradiksi besar. Mereka didorong untuk mandiri secara ekonomi, tetapi tetap dibebani tanggung jawab domestik penuh. Mereka diminta modern, tetapi tetap harus menjaga citra perempuan tradisional. Mereka boleh berambisi, tetapi tidak boleh terlihat terlalu ambisius. Akhirnya banyak perempuan hidup dalam kelelahan yang tidak pernah benar-benar diakui.

Mungkin karena itu konsep ibuisme negara masih relevan dibicarakan hari ini. Ia membantu kita memahami bahwa tekanan terhadap perempuan bukan sekadar persoalan individu atau budaya keluarga, tetapi juga hasil konstruksi sosial dan politik yang panjang.

Jadi Ibuisme negara adalah cara negara membentuk perempuan menjadi penyangga moral dan stabilitas sosial melalui identitas keibuan. Konsep yang diperkenalkan Julia Suryakusuma ini menunjukkan bahwa perempuan selama bertahun-tahun diarahkan untuk menjadi pendamping, pengasuh, dan penjaga harmoni keluarga demi kepentingan negara.

Meski lahir pada masa Orde Baru, warisan ibuisme negara masih terasa kuat di Indonesia hari ini. Ia hidup dalam glorifikasi ibu sempurna, pembagian kerja domestik yang timpang, hingga tekanan sosial yang membuat perempuan terus merasa harus menjadi segalanya.

Aku pikir persoalan terbesar dari ibuisme negara bukan hanya karena ia membatasi perempuan, tetapi karena ia membuat banyak perempuan merasa bersalah ketika ingin hidup sebagai dirinya sendiri.

Dan mungkin pertanyaan paling penting hari ini bukan lagi apakah perempuan bisa menjadi ibu yang baik. Tetapi apakah perempuan akhirnya bisa hidup tanpa terus-menerus dibebani menjadi simbol moral bagi semua orang.

Referensi

  • State IbuismJulia Suryakusuma
  • The Second SexSimone de Beauvoir
  • Discipline and PunishMichel Foucault
  • Caliban and the WitchSilvia Federici
  • The Managed HeartArlie Hochschild

 

Post Terkait

  • Perempuan, Rumah Tangga, dan Kelelahan Emosional
    Ada perubahan besar dalam kehidupan perempuan Indonesia dalam dua dekade terakhir. Perempuan kini semakin banyak hadir di ruang publik, memiliki […]
  • Babu, Riwayatmu Kini
    Sejarah kata sering kali lebih jujur daripada sejarah bangsa. Kata “babu” adalah salah satunya—sebuah istilah yang tampak sederhana, tetapi menyimpan […]
  • Buruh dan Serikat Pekerja Perempuan
    Buruh perempuan selalu hadir dalam sejarah buruh Indonesia, tetapi jarang benar-benar menjadi pusat cerita. Mereka bekerja, menopang industri, dan menjaga […]
  • Jejak, Tuntutan, Solidaritas
    Setiap tanggal 1 Mei, jalan-jalan di berbagai kota dunia dipenuhi warna merah, poster tuntutan, dan suara lantang yang menolak dilupakan. […]
  • Gerbong Khusus Perempuan: Aman atau Rentan?
    Perbincangan tentang gerbong khusus perempuan di KRL kembali mengemuka setelah kecelakaan yang melibatkan rangkaian kereta di Bekasi Timur pada 26 […]