Impostor Syndrome Perempuan Modern

April 25, 2026

Perempuan dalam Jeratan Bank Keliling

April 28, 2026

Jerat Bank Keliling Mengikat Perempuan

Di banyak kampung dan sudut kota, bank keliling hadir seperti jawaban cepat atas kebutuhan mendesak. Prosesnya sederhana, tanpa syarat rumit, tanpa jaminan besar, dan uang bisa cair dalam hitungan jam. Bagi banyak perempuan—terutama ibu rumah tangga, pedagang kecil, buruh harian, hingga pekerja informal—akses ini terasa seperti pertolongan pertama ketika dapur harus tetap mengepul, anak harus tetap sekolah, dan tagihan tidak bisa menunggu.

Namun, kemudahan itu sering berubah menjadi jerat. Cicilan harian atau mingguan dengan bunga tinggi menciptakan tekanan yang tidak kecil. Perempuan yang awalnya meminjam untuk kebutuhan produktif atau konsumsi mendesak justru terjebak dalam lingkaran utang yang berulang. Mereka meminjam untuk menutup pinjaman lama, lalu kembali meminjam untuk menutup kebutuhan baru. Situasi ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan persoalan sosial dan gender.

Dalam banyak kasus, perempuan menjadi pihak yang paling rentan karena mereka berada di garis depan pengelolaan rumah tangga, tetapi tidak selalu memiliki kontrol penuh atas sumber daya ekonomi keluarga. Di sinilah bank keliling menemukan ruang hidupnya. Catatan ini ingin melihat bagaimana perempuan menghadapi tekanan tersebut, mengapa mereka menjadi sasaran utama, dan bagaimana jalan keluar yang lebih adil dapat dibangun bersama.

Utang dan Sunyi

Banyak perempuan memikul utang dalam diam. Mereka tidak selalu bercerita kepada pasangan, keluarga, bahkan tetangga dekat karena rasa malu dan takut dianggap gagal mengatur rumah tangga. Utang menjadi beban psikologis yang sunyi. Ketika penagih datang ke rumah, bukan hanya uang yang dipertaruhkan, tetapi juga harga diri.

Fenomena ini dapat dibaca melalui teori feminization of poverty dari Diana Pearce yang menjelaskan bahwa perempuan lebih rentan mengalami kemiskinan karena akses ekonomi, perlindungan sosial, dan posisi tawar yang tidak setara. Dalam konteks bank keliling, perempuan sering menjadi sasaran karena dianggap lebih “bertanggung jawab” membayar cicilan, meskipun penghasilan mereka terbatas.

Mereka meminjam bukan karena konsumtif semata, tetapi karena ada kebutuhan nyata: biaya sekolah, kesehatan, kebutuhan dapur, modal jualan kecil, atau menutup pengeluaran mendadak. Ketika negara dan sistem keuangan formal tidak hadir secara ramah, bank keliling menjadi pilihan paling dekat.

Sayangnya, kedekatan itu sering berujung pada tekanan sosial. Penagihan dilakukan dengan cara yang mempermalukan, bahkan kadang melibatkan tetangga sekitar. Perempuan akhirnya menanggung dua beban sekaligus: beban ekonomi dan beban sosial. Mereka bukan hanya harus membayar utang, tetapi juga menjaga nama baik keluarga.

Beban Ganda Harian

Perempuan yang terjerat bank keliling umumnya bukan tidak bekerja. Mereka justru bekerja tanpa henti. Pagi mengurus rumah, siang berdagang kecil atau menjadi buruh, malam kembali mengurus keluarga. Namun kerja itu sering tidak dianggap sebagai kerja ekonomi yang setara.

Teori double burden dari Arlie Hochschild melalui konsep second shift menjelaskan bahwa perempuan menjalani dua shift sekaligus: kerja produktif dan kerja reproduktif. Mereka mencari penghasilan, tetapi tetap memikul tanggung jawab domestik secara penuh. Dalam situasi ini, tekanan cicilan bank keliling menjadi tambahan beban yang sangat nyata.

Seorang pedagang gorengan misalnya, bisa meminjam untuk membeli bahan dagangan. Tetapi hasil jualannya belum tentu cukup karena sebagian langsung habis untuk cicilan harian. Ketika pendapatan menurun karena cuaca, sakit, atau sepinya pembeli, utang menjadi bom waktu. Tidak ada ruang untuk gagal.

Yang lebih rumit, keputusan finansial dalam rumah tangga tidak selalu sepenuhnya berada di tangan perempuan. Mereka bertanggung jawab atas pembayaran, tetapi tidak selalu berwenang atas penggunaan uang. Ketimpangan ini membuat perempuan berada pada posisi paling rapuh.

Bank keliling tumbuh subur di ruang ketidakadilan ini. Ia menawarkan kecepatan, tetapi mengambil ketenangan. Ia memberi pinjaman kecil, tetapi menyisakan tekanan besar. Karena itu, persoalan ini tidak bisa dibaca sebagai kesalahan individu, melainkan sebagai cermin dari struktur sosial yang belum adil bagi perempuan.

Jalan Keluar Bersama

Membicarakan perempuan dalam jeratan bank keliling tidak cukup berhenti pada kritik. Harus ada jalan keluar yang nyata, kolektif, dan berkelanjutan. Solusi tidak bisa hanya berupa nasihat agar “lebih hemat” atau “jangan mudah berutang,” karena akar masalahnya jauh lebih dalam.

Teori pemberdayaan dari Naila Kabeer menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan harus bertumpu pada tiga hal: sumber daya, agensi, dan pencapaian. Perempuan membutuhkan akses terhadap sumber daya ekonomi yang aman, kemampuan mengambil keputusan, dan hasil nyata yang meningkatkan kualitas hidup.

Artinya, akses terhadap lembaga keuangan formal harus dibuat lebih mudah, murah, dan manusiawi. Koperasi perempuan, kelompok simpan pinjam berbasis komunitas, dan literasi keuangan yang kontekstual dapat menjadi alternatif penting. Bukan sekadar mengajari cara menabung, tetapi juga membangun keberanian untuk mengambil keputusan ekonomi secara mandiri.

Negara juga perlu hadir melalui perlindungan sosial yang lebih kuat. Ketika biaya kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan dasar dapat dijangkau, ketergantungan pada pinjaman berbunga tinggi akan berkurang. Di sisi lain, masyarakat perlu berhenti menghakimi perempuan yang berutang seolah itu adalah kegagalan moral pribadi.

Sering kali, mereka hanya sedang berusaha bertahan. Dan bertahan hidup tidak pernah mudah.

Bank keliling bukan sekadar soal pinjaman, tetapi tentang bagaimana ketimpangan sosial bekerja di ruang paling dekat: rumah tangga. Ketika perempuan dipaksa menjadi penyangga utama tanpa perlindungan yang memadai, utang menjadi jalan yang nyaris tak terhindarkan. Karena itu, jalan keluar terbaik bukan hanya pelunasan, melainkan perubahan sistem yang membuat perempuan tidak lagi harus memilih antara kebutuhan hari ini dan ketenangan esok hari.

Referensi

  • Pearce, Diana. 1978. The Feminization of Poverty: Women, Work, and Welfare.
  • Hochschild, Arlie Russell. 1989. The Second Shift: Working Parents and the Revolution at Home.
  • Kabeer, Naila. 1999. Resources, Agency, Achievements: Reflections on the Measurement of Women’s Empowerment. Development and Change, Vol. 30

    Besli Pangaribuan

 

Post Terkait

  • Perempuan, Rumah Tangga, dan Kelelahan Emosional
    Ada perubahan besar dalam kehidupan perempuan Indonesia dalam dua dekade terakhir. Perempuan kini semakin banyak hadir di ruang publik, memiliki […]
  • Babu, Riwayatmu Kini
    Sejarah kata sering kali lebih jujur daripada sejarah bangsa. Kata “babu” adalah salah satunya—sebuah istilah yang tampak sederhana, tetapi menyimpan […]
  • Buruh dan Serikat Pekerja Perempuan
    Buruh perempuan selalu hadir dalam sejarah buruh Indonesia, tetapi jarang benar-benar menjadi pusat cerita. Mereka bekerja, menopang industri, dan menjaga […]
  • Jejak, Tuntutan, Solidaritas
    Setiap tanggal 1 Mei, jalan-jalan di berbagai kota dunia dipenuhi warna merah, poster tuntutan, dan suara lantang yang menolak dilupakan. […]
  • Gerbong Khusus Perempuan: Aman atau Rentan?
    Perbincangan tentang gerbong khusus perempuan di KRL kembali mengemuka setelah kecelakaan yang melibatkan rangkaian kereta di Bekasi Timur pada 26 […]