
Jerat Bank Keliling Mengikat Perempuan
April 28, 2026
Gerbong Khusus Perempuan: Aman atau Rentan?
April 28, 2026Setiap sekitar pukul 3 sore, para perempuan, terutama para ibu rapi duduk berjejer di salah satu kampung yang terletak di tengah kota Surabaya. Mereka tidak menunggu aparat kelurahan yang mengabarkan pembagian bantuan sosial, mereka menunggu bank keliling. Keduanya – bansos dan bank keliling – menawarkan hal yang sama, bantuan keuangan instan. Yang membedakan keduanya adalah mekanisme, yang satu gratis permanen (karena diambil dari pajak) dan satu memiliki kewajiban membayar kembali dengan bunga yang cukup tinggi. Dan saya menjadi bagian dari para ibu itu.
Bank keliling memang secara masih “bergerilya” di kampung-kampung, tidak hanya di kota-kota besar, setiap wilayah yang memiliki anggota para perempuan, pasti mereka sasar. Mekanisme pembayarannya cukup beragam, ada yang harian dan bulanan. Besar pinjamannya pun mulai 500 ribu hingga 2 juta. Berdasarkan pengalaman saya, pinjaman sebesar 500 ribu akan dipotong admin sebesar 100 ribu, dengan kewajiban bayar sebesar 65 ribu setiap minggu selama 10 minggu. Itu kalo mingguan, hitungan untuk harian beda lagi. Untuk pinjaman 500, para ibu ini wajib membayar 7.500 per hari selama 10 hari. Akh, angka yang masih kecil, bukan.
Sebenarnya tidak kecil, jika seorang ibu memiliki jika mereka mengambil 3-4 hutang di bank keliling yang berbeda. Bisa dibayangkan berapa banyak yang ibu itu harus bayarkan, di luar pengeluaran sehari-hari. Pertanyaan yang sering dilontarkan kepada saya sebagai salah satu konsumen – dan para ibu – itu adalah, “Sudah tahu cicilannya tinggi, kenapa masih ‘nekat’ mengambil pinjaman?”
Hidup itu tidak seleha-leha Nia Ramadani dengan istana emasnya, pun para perempuan yang ujug-ujug dinikahi CEO di drama-drama pendek Asia. Kenyataan bahwa para ibu yang mengambil cicilan itu juga banyak yang memiliki usaha, pun bekerja. Logika para kreditur adalah menghitung kemampuan alias menghitung asset. Jika dirasa debitur mampu, maka digelontorkanlah utang itu. Sama seperti logika para pemimpin kita yang rajin berhutang di negara-negara asing, yang berpikir, “Ah, duitnya mah pokoknya ada!” kalo pun galbay, bisa minta restrukturisasi hutang.
Banyak sudut pandang yang bisa digunakan untuk melihat fenomena ini, pun banyak faktor yang menyebabkan saya dan para ibu ini “nekat” mengambil hutang. Banyak pihak bilang, para perempuan terlalu konsumtif akhir-akhir ini. Saya yang perempuan sedikit mengelak dengan anggapan itu. Para perempuan kelas bawah itu boro-boro konsumtif, pakaian dalam saja sekalipun sudah kendor karetnya, masih dipakai juga.
Lalu apa penyebabnya? Salah satu faktor penyebabnya, selain makro ekonomi – inflasi- adalah posisi perempuan di keluarga yang meskipun memiliki suami, “diwajibkan” membantu perekonomian keluarga. Ini yang membuat mereka harus seperti Xena, the princess warrior. Kuat dan tahan banting di segala medan. Perempuan wajib bekerja bukan untuk aktualisasi diri, namun untuk menopang perekonomian. Ini kemudian dilirik oleh para pebisnis dengan menawarkan jasa daycare atau munculnya fenomena ART. Tidak apa-apa juga, ketika ini muncul sebagai habitus yang menguatkan perempuan.
Faktor paling utama para perempuan terjebak pada ikatan abang-abang yang menawarkan hutang tidak lunak ini adalah peran mereka sebagai “manager keuangan” dalam keluarga. Jika ada “kebocoran” anggaran, dimana uang belanja tidak cukup menutup kebutuhan mendadak, maka abang-abang keliling adalah solusi praktisnya. Dan abang-abang keliling ini nampaknya dibekali pengetahuan psikologis dari “koperasi” tempat mereka bernaung. Mereka paham betul, wajah-wajah perempuan yang tertekan di setiap sore hari, lalu menawarkan pinjaman yang tidak ribet – cukup dengan KTP dan tanpa BI checking.
Saya pribadi apatis bagaimana rantai setan yang cukup meringankan sekejab ini diberantas, selama kebiasaan hutang pemerintah kita tidak dibenahi. Setiap hari kita dicekoki dengan berita, “Pemerintah Menarik Hutang Baru”. Cucu saya yang belum lahir pun harus menanggung hutang yang tidak diambil moyangnya. (Dew)

