Cinderella Complex dalam Drama China

April 25, 2026

Jerat Bank Keliling Mengikat Perempuan

April 28, 2026

Impostor Syndrome Perempuan Modern

Di balik pencapaian yang tampak rapi dan meyakinkan, sering tersembunyi suara kecil yang terus berbisik, “Kamu tidak sepantas ini.” Suara itu tidak selalu keras, tapi cukup konsisten untuk menggerogoti rasa percaya diri, bahkan pada mereka yang secara objektif kompeten. Fenomena ini dikenal sebagai impostor syndrome—sebuah kondisi psikologis di mana seseorang meragukan pencapaian dirinya sendiri dan hidup dalam ketakutan akan “terbongkar” sebagai penipu.

Pada perempuan, pengalaman ini memiliki lapisan yang lebih kompleks. Ia tidak hanya lahir dari dinamika internal, tetapi juga dari konstruksi sosial yang membentuk cara perempuan melihat dirinya sejak dini. Banyak perempuan tumbuh dengan pesan halus untuk tidak terlalu menonjol, untuk tetap rendah hati, atau bahkan untuk meragukan ambisi mereka sendiri. Dalam konteks ini, impostor syndrome bukan sekadar persoalan individu, melainkan refleksi dari sistem nilai yang lebih luas.

Seiring meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia profesional dan publik, tekanan untuk “membuktikan diri” justru semakin intens. Alih-alih merasa layak, banyak yang justru merasa harus bekerja dua kali lebih keras untuk mendapatkan validasi yang sama. Dari sinilah muncul paradoks: semakin tinggi pencapaian, semakin dalam rasa tidak pantas itu berakar.

 Akar Sosial Budaya

Untuk memahami impostor syndrome pada perempuan, penting melihat bagaimana lingkungan sosial membentuk persepsi diri. Dalam buku The Confidence Code (2014) oleh Katty Kay dan Claire Shipman, dijelaskan bahwa perempuan cenderung meremehkan kemampuan mereka sendiri, bahkan ketika bukti objektif menunjukkan sebaliknya. Fenomena ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses panjang internalisasi norma sosial.

Sejak kecil, anak perempuan sering dipuji karena sikap “baik” dan “penurut”, sementara anak laki-laki lebih sering didorong untuk berani mengambil risiko. Pola ini membentuk hubungan yang berbeda terhadap kegagalan dan keberhasilan. Perempuan diajarkan untuk berhati-hati dan menghindari kesalahan, sehingga ketika mereka berhasil, keberhasilan itu terasa seperti anomali, bukan hasil dari kemampuan.

Teori social role theory yang dikemukakan oleh Alice Eagly dalam Sex Differences in Social Behavior (1987) menjelaskan bahwa ekspektasi sosial terhadap gender membentuk perilaku dan kepercayaan diri individu. Dalam konteks ini, perempuan sering berada dalam posisi yang mengharuskan mereka menyeimbangkan antara kompetensi dan penerimaan sosial. Terlalu percaya diri bisa dianggap agresif, sementara terlalu rendah diri dianggap tidak kompeten.

Ketegangan inilah yang menciptakan ruang subur bagi impostor syndrome. Perempuan tidak hanya mempertanyakan kemampuan mereka, tetapi juga terus menyesuaikan diri dengan ekspektasi yang sering kali kontradiktif.

Pola Psikologis Internal

Di tingkat individu, impostor syndrome berkaitan erat dengan pola pikir dan cara seseorang memproses pengalaman. Dalam buku klasik The Impostor Phenomenon in High Achieving Women (1978) oleh Pauline Clance dan Suzanne Imes, dijelaskan bahwa perempuan berprestasi tinggi sering mengaitkan keberhasilan mereka dengan faktor eksternal seperti keberuntungan atau bantuan orang lain, bukan kemampuan pribadi.

Teori attribution theory dari Bernard Weiner dalam An Attributional Theory of Motivation and Emotion (1985) membantu menjelaskan fenomena ini. Menurut teori ini, cara seseorang mengatribusikan penyebab keberhasilan atau kegagalan akan memengaruhi motivasi dan emosi mereka. Perempuan dengan impostor syndrome cenderung mengatribusikan keberhasilan pada faktor eksternal dan kegagalan pada kekurangan internal.

Akibatnya, muncul siklus yang sulit diputus. Ketika berhasil, mereka merasa tidak layak. Ketika gagal, mereka merasa itu bukti bahwa mereka memang tidak mampu. Siklus ini diperkuat oleh perfeksionisme—keinginan untuk mencapai standar yang sangat tinggi sebagai cara untuk “menutupi” rasa tidak cukup.

Selain itu, overthinking dan kecenderungan untuk terus mengevaluasi diri juga memainkan peran besar. Pikiran menjadi ruang yang penuh dengan keraguan, di mana setiap pencapaian dipertanyakan dan setiap kesalahan diperbesar. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengarah pada kelelahan mental dan bahkan burnout.

Dampak Kehidupan Nyata

Impostor syndrome bukan hanya pengalaman internal; ia memiliki konsekuensi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku Lean In (2013), Sheryl Sandberg menyoroti bagaimana perempuan sering ragu untuk mengambil peluang karena merasa belum cukup siap. Mereka menunggu hingga merasa “sempurna”, sementara kesempatan tidak selalu menunggu.

Teori self-efficacy dari Albert Bandura dalam Self-Efficacy: The Exercise of Control (1997) menjelaskan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri memengaruhi tindakan seseorang. Ketika self-efficacy rendah, individu cenderung menghindari tantangan, meskipun mereka sebenarnya mampu.

Dalam dunia kerja, ini terlihat dalam berbagai bentuk: enggan mengajukan promosi, ragu menyampaikan ide, atau merasa tidak pantas berada di posisi tertentu. Bahkan dalam relasi personal, impostor syndrome dapat memengaruhi cara perempuan memandang dirinya—merasa tidak cukup baik sebagai pasangan, teman, atau bahkan sebagai individu.

Lebih jauh lagi, impostor syndrome juga dapat menciptakan ketergantungan pada validasi eksternal. Pujian menjadi sesuatu yang dibutuhkan, tetapi sulit dipercaya. Kritik menjadi sesuatu yang ditakuti, tetapi sering dianggap sebagai kebenaran mutlak. Dalam kondisi ini, identitas diri menjadi rapuh, mudah goyah oleh persepsi orang lain.

Namun, penting untuk dicatat bahwa kesadaran akan impostor syndrome bisa menjadi titik awal perubahan. Ketika seseorang mulai mengenali pola pikirnya, ia memiliki peluang untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan dirinya sendiri. Bukan dengan menghilangkan keraguan sepenuhnya, tetapi dengan belajar untuk tidak selalu mempercayainya.

Impostor syndrome bukan sekadar tentang merasa tidak percaya diri. Ia adalah cerminan dari bagaimana individu, khususnya perempuan, bernegosiasi dengan dunia yang penuh ekspektasi. Memahami fenomena ini bukan hanya membantu individu mengenali dirinya, tetapi juga membuka ruang untuk percakapan yang lebih luas tentang bagaimana kita membangun sistem yang lebih adil—di mana pencapaian tidak lagi disertai rasa bersalah, dan kepercayaan diri tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus ditekan.

 

Referensi

  • Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York: W.H. Freeman.
  • Clance, P. R., & Imes, S. A. (1978). The impostor phenomenon in high achieving women: Dynamics and therapeutic intervention. Psychotherapy: Theory, Research & Practice, 15(3), 241–247.
  • Eagly, A. H. (1987). Sex differences in social behavior: A social-role interpretation. Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.
  • Kay, K., & Shipman, C. (2014). The confidence code: The science and art of self-assurance—What women should know. New York: HarperBusiness.
  • Sandberg, S. (2013). Lean in: Women, work, and the will to lead. New York: Alfred A. Knopf.
  • Weiner, B. (1985). An attributional theory of achievement motivation and emotion. Psychological Review, 92(4), 548–573

    Besli Pangaribuan

 

Post Terkait

  • Perempuan, Rumah Tangga, dan Kelelahan Emosional
    Ada perubahan besar dalam kehidupan perempuan Indonesia dalam dua dekade terakhir. Perempuan kini semakin banyak hadir di ruang publik, memiliki […]
  • Babu, Riwayatmu Kini
    Sejarah kata sering kali lebih jujur daripada sejarah bangsa. Kata “babu” adalah salah satunya—sebuah istilah yang tampak sederhana, tetapi menyimpan […]
  • Buruh dan Serikat Pekerja Perempuan
    Buruh perempuan selalu hadir dalam sejarah buruh Indonesia, tetapi jarang benar-benar menjadi pusat cerita. Mereka bekerja, menopang industri, dan menjaga […]
  • Jejak, Tuntutan, Solidaritas
    Setiap tanggal 1 Mei, jalan-jalan di berbagai kota dunia dipenuhi warna merah, poster tuntutan, dan suara lantang yang menolak dilupakan. […]
  • Gerbong Khusus Perempuan: Aman atau Rentan?
    Perbincangan tentang gerbong khusus perempuan di KRL kembali mengemuka setelah kecelakaan yang melibatkan rangkaian kereta di Bekasi Timur pada 26 […]