Besli Pangaribuan
Di tengah derasnya arus konten digital, dracin—drama China—menjadi salah satu konsumsi populer perempuan urban hari ini. Dari kisah CEO dingin yang jatuh cinta, hingga dewa abadi yang setia menunggu reinkarnasi kekasihnya, narasi-narasi ini menyajikan romansa intens yang sulit diabaikan. Namun di balik keindahan visual dan alur yang memikat, terselip pola cerita yang berulang: perempuan yang berada dalam posisi rentan, lalu “diselamatkan” oleh sosok laki-laki kuat, protektif, dan hampir sempurna. Di titik inilah, konsep Cinderella Complex kembali relevan untuk dibicarakan.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Colette Dowling dalam bukunya The Cinderella Complex: Women’s Hidden Fear of Independence (1981). Dowling mengidentifikasi adanya kecenderungan psikologis pada perempuan untuk, secara tidak sadar, menghindari kemandirian penuh dan berharap pada figur eksternal—biasanya laki-laki—sebagai penyelamat hidup. Dalam konteks modern, fenomena ini tidak lagi hadir dalam bentuk dongeng klasik semata, melainkan menjelma dalam format yang lebih kontemporer: serial streaming, termasuk dracin.
Romansa sebagai Ilusi Kekuatan
Dracin bekerja dengan sangat efektif dalam membangun fantasi emosional. Karakter laki-laki yang dominan sering digambarkan memiliki kekuatan ekonomi, sosial, bahkan supranatural. Mereka mampu menyelesaikan konflik dengan cepat, melindungi tanpa syarat, dan mencintai secara absolut. Sementara itu, karakter perempuan sering kali memulai cerita dalam posisi lemah—secara finansial, sosial, atau emosional.
Narasi ini bukan sekadar hiburan netral. Ia membentuk cara pandang. Ketika perempuan terus-menerus disajikan dengan cerita bahwa cinta sejati datang dalam bentuk penyelamatan, maka relasi romantis perlahan dipersepsikan sebagai ruang di mana ketergantungan menjadi sesuatu yang wajar, bahkan ideal.
Simone de Beauvoir dalam The Second Sex (1949) pernah mengkritik konstruksi perempuan sebagai “the Other”—pihak yang didefinisikan bukan dari dirinya sendiri, tetapi dari relasinya dengan laki-laki. Dalam banyak dracin, konstruksi ini masih terasa: identitas perempuan berkembang bukan dari agensinya sendiri, melainkan dari bagaimana ia dicintai, dilindungi, atau dipilih oleh laki-laki.
Masalahnya bukan pada fantasinya, melainkan pada repetisi tanpa kesadaran. Fantasi yang terus diulang berpotensi menjadi standar implisit. Tanpa disadari, perempuan bisa mulai menginternalisasi bahwa nilai dirinya meningkat ketika ia “dipilih” oleh sosok yang kuat.
Cinderella Modern dalam Layar Kaca
Jika dongeng Cinderella klasik berkisah tentang transformasi hidup melalui pernikahan dengan pangeran, maka dracin menghadirkan versi modernnya: dari karyawan biasa menjadi pasangan CEO, dari manusia fana menjadi pasangan dewa, dari perempuan terluka menjadi satu-satunya yang bisa “meluluhkan” laki-laki dingin.
Secara psikologis, ini berkaitan dengan apa yang disebut sebagai romantic idealization—kecenderungan untuk memandang hubungan secara tidak realistis, penuh harapan berlebihan, dan minim kompleksitas. Teori ini banyak dibahas dalam studi hubungan interpersonal modern, yang menunjukkan bahwa idealisasi berlebihan bisa berdampak pada kepuasan hubungan jangka panjang.
Dalam Why We Love (2004), Helen Fisher menjelaskan bahwa sistem romantis dalam otak manusia memang dirancang untuk menciptakan fokus intens terhadap satu individu. Namun ketika sistem ini diperkuat oleh media yang terus menyajikan narasi “cinta sempurna”, maka batas antara realitas dan fantasi bisa menjadi kabur.
Cinderella Complex dalam konteks ini tidak selalu muncul sebagai ketergantungan ekstrem. Ia bisa hadir dalam bentuk halus: ekspektasi bahwa pasangan harus selalu memahami tanpa komunikasi, keyakinan bahwa cinta sejati akan mengatasi semua konflik tanpa usaha, atau harapan bahwa seseorang akan datang dan “memperbaiki” hidup.
Dracin, dengan segala dramatisasinya, memperkuat pola ini. Ia menawarkan pelarian, tetapi juga menanamkan skrip relasi yang tidak selalu kompatibel dengan kehidupan nyata yang penuh negosiasi dan ketidaksempurnaan.
Menikmati Tanpa Terjebak
Penting untuk menegaskan bahwa menikmati dracin bukanlah masalah. Hiburan adalah bagian dari kebutuhan emosional manusia. Ia memberikan ruang untuk berimajinasi, merasakan, dan bahkan memproses pengalaman pribadi. Namun yang menjadi krusial adalah kesadaran dalam mengonsumsi.
Psikologi modern menekankan pentingnya media literacy—kemampuan untuk memahami, mengkritisi, dan memaknai konten yang dikonsumsi. Dalam konteks ini, perempuan perlu mampu membedakan antara narasi dramatis dan realitas relasi yang sehat.
Bell hooks dalam All About Love (2000) menekankan bahwa cinta sejati bukan sekadar perasaan, tetapi praktik yang melibatkan tanggung jawab, komunikasi, dan pertumbuhan bersama. Ini jauh dari gambaran cinta instan yang sering ditawarkan oleh drama.
Alih-alih melihat dracin sebagai standar, ia bisa diposisikan sebagai refleksi: mengapa tipe karakter tertentu terasa menarik? Kebutuhan emosional apa yang sedang disentuh? Apakah itu tentang rasa aman, pengakuan, atau keinginan untuk dilihat?
Dengan pendekatan ini, dracin tidak lagi menjadi “cetak biru” hubungan, melainkan cermin yang membantu memahami diri sendiri. Di titik ini, Cinderella Complex bisa dikenali, bukan untuk dihakimi, tetapi untuk disadari.
Kesadaran ini penting karena kemandirian emosional bukan berarti menolak cinta, melainkan membangun relasi dari posisi utuh, bukan kekurangan. Perempuan tidak perlu menunggu untuk diselamatkan untuk merasa lengkap. Cinta yang sehat bukan tentang menyelamatkan, tetapi tentang saling menemani dalam proses menjadi.
Dracin tetaplah cerita. Ia bisa dinikmati, dirayakan, bahkan ditertawakan. Namun kehidupan nyata menuntut sesuatu yang lebih kompleks dari sekadar alur dramatis. Ia membutuhkan keberanian untuk mandiri, sekaligus kerendahan hati untuk berbagi.
Dan mungkin, di situlah romansa yang sebenarnya dimulai—bukan ketika seseorang datang menyelamatkan, tetapi ketika dua individu yang sama-sama utuh memilih untuk berjalan bersama.
Referensi
- Dowling, Colette. The Cinderella Complex: Women’s Hidden Fear of Independence. 1981.
- de Beauvoir, Simone. The Second Sex. 1949.
- Fisher, Helen. Why We Love: The Nature and Chemistry of Romantic Love. 2004.
- hooks, bell. All About Love: New Visions. 2000.
- Wood, Julia T. Gendered Lives: Communication, Gender, and Culture. 2015.









