Oleh: Besli Pangaribuan
Sering kali ketika kita melihat film horor, sosok “hantu” yang muncul adalah sosok perempuan berambut panjang, diam, lalu tiba-tiba mengancam. Ini bukan sekadar hasil kreativitas sineas atau kebetulan budaya. Ada pola yang lebih dalam: ketakutan kolektif terhadap hal-hal yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan—dan dalam banyak masyarakat, tubuh serta pengalaman perempuan sering ditempatkan dalam kategori itu.
Dalam sejarah sinema, monster seringkali diidentikkan dengan sosok maskulin atau entitas tanpa gender yang merusak. Namun, kritikus film Barbara Creed melalui bukunya yang provokatif, The Monstrous-Feminine: Film, Feminism, Psychoanalysis (1993), membedah fenomena di mana feminitas itu sendiri diposisikan sebagai sumber kengerian. Creed membahasakan teorinya dengan istilah Monstrous-Feminine untuk menggambarkan bagaimana figur perempuan dalam film horor atau sastra sering direpresentasikan sebagai sosok yang mengerikan, menjijikkan, atau berjiwa monster
Berbeda dengan pandangan Freud yang melihat wanita sebagai sosok yang “terkebiri” (lack), Creed berargumen bahwa dalam horor, wanita justru tampil sebagai sosok yang mengancam karena kekuatan biologis dan kapasitas reproduksinya.
Konsep Monstrous-Feminine ini sendiri berakar pada teori Abjeksi dari Julia Kristeva dalam Powers of Horror (1982), di mana sesuatu yang “abjek” adalah hal yang mengaburkan batas antara subjek dan objek, antara diri dan yang lain, seperti darah, nanah, atau proses kelahiran. Monstrous feminine bukanlah sekadar monster yang kebetulan perempuan; namun adalah manifestasi dari ketakutan purba pria terhadap rahim dan otoritas ibu yang tak terkendali.
Rahim Penuh Teror
Manifestasi paling murni dari monstrous feminine adalah figur “Ibu Primal” atau Archaic Mother. Dalam banyak film horor, ketakutan terbesar bukan terletak pada kematian, melainkan pada proses reproduksi yang menyimpang. Creed memberikan contoh klasik melalui film Alien (1979) karya Ridley Scott. Meskipun sosok xenomorph sering dianggap phallic, lingkungan di dalam kapal dan proses perkembangbiakan alien tersebut sangat kental dengan metafora rahim yang mematikan.

Lubang-lubang organik, lendir, dan ruang tertutup dalam film tersebut merepresentasikan rahim yang tidak lagi menjadi tempat perlindungan, melainkan tempat pembinasaan. Teori ini menggugat pandangan patriarki yang biasanya mendomestikasi peran ibu sebagai sosok suci dan lemah lembut. Ketika fungsi reproduksi ditampilkan secara eksplisit dan mengerikan, ia menjadi abjek. Penonton dipaksa menghadapi kenyataan biologis yang selama ini ditekan oleh budaya. Dalam film seperti The Brood (1979) atau Titane (2021), tubuh perempuan tidak lagi menjadi objek hasrat, melainkan subjek otonom yang melahirkan kengerian dari dalam dirinya sendiri, membuktikan bahwa ancaman terbesar seringkali muncul dari asal-usul kehidupan itu sendiri.
Vagina Bergigi Tajam
Subjudul ini merujuk pada mitos Vagina Dentata, sebuah konsep psikoanalisis yang menggambarkan ketakutan pria akan kastrasi saat berhubungan seksual. Dalam narasi monstrous feminine, perempuan sering digambarkan sebagai pemangsa yang menggunakan seksualitasnya untuk menghancurkan pria. Film horor memanfaatkan kecemasan ini dengan menciptakan karakter feminin yang tampak menggoda namun mematikan secara fisik maupun psikologis.
Contoh modern yang paling eksplisit adalah film Teeth (2007), di mana sang protagonis secara harfiah memiliki gigi pada organ intimnya sebagai mekanisme pertahanan terhadap kekerasan seksual. Namun, jauh sebelum itu, karakter seperti Medusa dalam mitologi atau sosok femme fatale dalam film noir telah meletakkan dasar bagi ancaman ini.
Dalam film Jennifer’s Body (2009), rasa lapar karakter utama terhadap daging pria adalah metafora dari konsumsi balik terhadap patriarki. Laura Mulvey melalui teori The Male Gaze (1975) memutarbalikkan logika patriarki ini. Perempuan bukan lagi objek yang dipandang untuk kesenangan, melainkan subjek yang memandang kembali dengan ancaman kehancuran. Seksualitas perempuan diposisikan sebagai “lubang hitam” yang dapat menelan otoritas maskulin, menciptakan kengerian yang bersumber dari hilangnya kontrol pria atas tubuh perempuan.
Darah dan Transformasi
Transformasi tubuh perempuan seringkali dikaitkan dengan siklus biologis yang dianggap tabu dalam masyarakat patriarki, seperti menstruasi, kehamilan, dan menopause. Film Carrie (1976) yang diadaptasi dari novel Stephen King adalah studi kasus utama mengenai bagaimana darah menstruasi pertama menjadi pemicu kekuatan telekinetik yang menghancurkan. Darah di sini berfungsi sebagai simbol abjeksi Kristeva—ia keluar dari dalam tubuh, menandakan kedewasaan seksual sekaligus ketidakteraturan.

Ketakutan patriarki terhadap darah perempuan mencerminkan ketidakmampuan budaya untuk mengasimilasi proses biologis alami ke dalam tatanan sosial yang “bersih”. Dalam film Ginger Snaps (2000), transformasi menjadi manusia serigala digunakan sebagai metafora pubertas perempuan yang liar dan tak terkendali. Monstrositas di sini bukanlah kutukan eksternal, melainkan sesuatu yang inheren dalam pertumbuhan feminitas. Dengan menempatkan darah dan perubahan tubuh sebagai pusat horor, film-film ini sebenarnya membongkar bagaimana masyarakat berusaha mengontrol tubuh perempuan melalui rasa malu. Sosok monster perempuan menjadi kuat justru ketika ia merangkul keabjekannya, menolak untuk disembunyikan, dan menggunakan “ketidaknormalan” biologisnya sebagai senjata untuk meruntuhkan struktur sosial yang menindasnya.
Melalui konsep “monstrous feminine” yang diperkenalkan oleh Barbara Creed, kita dapat membaca bahwa horor tidak sekadar menampilkan perempuan sebagai objek yang ditakuti, tetapi menjadikan feminitas itu sendiri sebagai sumber kengerian. Berakar pada teori abjeksi dari Julia Kristeva, ketakutan ini muncul dari hal-hal yang mengaburkan batas—antara tubuh dan identitas, antara kehidupan dan kematian. Dalam konteks ini, hantu perempuan menjadi lebih dari sekadar figur seram; ia adalah simbol dari kecemasan kolektif yang belum terselesaikan.
Referensi
- Creed, B. (1993). The Monstrous-Feminine: Film, Feminism, Psychoanalysis. Routledge. (Teori utama tentang posisi perempuan sebagai monster dalam horor).
- Kristeva, J. (1982). Powers of Horror: An Essay on Abjection. Columbia University Press. (Konsep abjeksi: sesuatu yang mengancam batas-batas identitas).
- Mulvey, L. (1975). Visual Pleasure and Narrative Cinema. Screen. (Teori Male Gaze dan objektifikasi perempuan).
- Clover, C. J. (1992). Men, Women, and Chain Saws: Gender in the Modern Horror Film. Princeton University Press. (Analisis tentang “Final Girl” dan gender dalam horor).









