Jejak, Tuntutan, Solidaritas

April 30, 2026

Marsinah Luka Keadilan

May 1, 2026

Skinhead, Working Class, dan MayDay

Duduk di pojok warung kopi sambil memperhatikan lalu lalang orang berangkat kerja, pandangan saya seringkali tertahan pada sepasang sepatu bot Dr. Martens yang tampak kokoh. Ada sesuatu yang magnetis dari siluet itu—simbol ketangguhan yang melampaui sekadar tren alas kaki. Bagi saya, membicarakan Skinhead bukan sekadar membahas kepala plontos atau musik ska yang rancak, melainkan menyelami romansa kelas pekerja yang bertahan di tengah gempuran zaman. Melalui catatan ini, saya ingin mengajak kawan-kawan menyusuri lorong waktu, memahami mengapa identitas ini begitu lekat dengan keringat buruh, dan bagaimana subcultur ini menemukan rumah baru di aspal panas Indonesia, terutama saat kalender menunjukkan angka satu di bulan Mei.

Akar Rumput London

Menelusuri sejarah Skinhead berarti kita harus kembali ke Inggris akhir 1960-an. Saat itu, ada pergeseran budaya yang unik. Jika kaum Hippie sibuk dengan bunga dan estetika kelas menengah yang mengawang-awang, anak-anak muda di kawasan industri justru ingin tetap membumi. Mereka adalah anak-anak dari para buruh pelabuhan dan pabrik. Identitas mereka terbentuk dari persilangan gaya “Mod” yang rapi dengan pengaruh imigran Jamaika yang membawa musik “rocksteady” dan “reggae”. Sebagaimana dicatat oleh George Marshall dalam bukunya yang fenomenal, Spirit of ’69: A Skinhead Bible (1991), subkultur ini pada awalnya sama sekali tidak berkaitan dengan politik rasisme yang belakangan mencoreng citranya; ia adalah tentang persaudaraan, kebanggaan kelas, dan kecintaan pada musik hitam. Rambut dipangkas pendek bukan tanpa alasan—itu adalah respon praktis agar tidak mengganggu saat bekerja di pabrik atau terlibat dalam perkelahian di tribun stadion bola.

Baca Profil Besli Pangaribuan

Marwah Kelas Pekerja

Mengapa jargon Working Class menjadi begitu sakral bagi seorang Skinhead? Jawabannya sederhana: kebanggaan atas keringat sendiri. Menggunakan istilah ini bukan sekadar pamer kemiskinan, melainkan bentuk resistensi terhadap tatanan sosial yang sering meremehkan tenaga kasar. Bagi mereka, menjadi buruh adalah sebuah martabat. Jaket “Harrington”, celana “Sta-Prest”, dan suspender (braces) adalah seragam harian yang menunjukkan bahwa mereka tidak berusaha menjadi orang lain. 

Menurut analisis dalam buku Subculture: The Meaning of Style karya Dick Hebdige (1979), gaya berpakaian Skinhead merupakan “konstruksi identitas yang menentang hegemoni”. Dengan mengadopsi jargon kelas pekerja, mereka menciptakan ruang di mana mereka tidak lagi dipandang sebagai sekadar “alat produksi”, melainkan manusia berdaulat yang memiliki budaya, musik, dan solidaritasnya sendiri yang tak terpecahkan oleh tekanan ekonomi.

Simak juga: Jejak, Tuntutan, Solidaritas

Harmoni Aspal Indonesia

Masuknya subkultur ini ke Indonesia di pertengahan 1990-an membawa warna baru dalam peta pergerakan pemuda lokal. Lewat pertukaran kaset, zine, dan informasi dari mulut ke mulut, anak muda di Jakarta, Bandung, hingga Surabaya mulai mengadopsi estetika “boots and braces”. Namun, konteksnya di Indonesia menjadi sangat menarik ketika bersinggungan dengan momentum politik, terutama Mayday (Hari Buruh Internasional). 

Skinhead Indonesia bukan sekadar gaya-gayaan; banyak dari mereka yang sadar akan posisi kelasnya di tengah sistem kapitalisme yang timpang. Dalam buku Punk! Fesyen, Subkultur, Identitas karya Shanty Dewi Arifin (2011), dijelaskan bagaimana subkultur barat diadaptasi ke dalam lokalitas Indonesia sebagai bentuk ekspresi kemandirian. Maka tak heran, setiap tanggal 1 Mei, kita melihat barisan kepala plontos dan sepatu bot ikut turun ke jalan, berdiri bahu-membahu dengan serikat buruh konvensional. 

Bagi mereka, Mayday adalah momen pengingat bahwa jati diri mereka berakar pada semangat perlawanan yang sama dengan para buruh di Chicago berabad-abad silam.

Daftar Referensi

  • Arifin, S. D. (2011). Punk! Fesyen, Subkultur, Identitas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Hebdige, D. (1979). Subculture: The Meaning of Style. London: Routledge.
  • Marshall, G. (1991). Spirit of ’69: A Skinhead Bible. Dunoon: S.T. Publishing.

Post Terkait

  • Perempuan, Rumah Tangga, dan Kelelahan Emosional
    Ada perubahan besar dalam kehidupan perempuan Indonesia dalam dua dekade terakhir. Perempuan kini semakin banyak hadir di ruang publik, memiliki […]
  • Babu, Riwayatmu Kini
    Sejarah kata sering kali lebih jujur daripada sejarah bangsa. Kata “babu” adalah salah satunya—sebuah istilah yang tampak sederhana, tetapi menyimpan […]
  • Buruh dan Serikat Pekerja Perempuan
    Buruh perempuan selalu hadir dalam sejarah buruh Indonesia, tetapi jarang benar-benar menjadi pusat cerita. Mereka bekerja, menopang industri, dan menjaga […]
  • Jejak, Tuntutan, Solidaritas
    Setiap tanggal 1 Mei, jalan-jalan di berbagai kota dunia dipenuhi warna merah, poster tuntutan, dan suara lantang yang menolak dilupakan. […]
  • Gerbong Khusus Perempuan: Aman atau Rentan?
    Perbincangan tentang gerbong khusus perempuan di KRL kembali mengemuka setelah kecelakaan yang melibatkan rangkaian kereta di Bekasi Timur pada 26 […]