Jika kita membaca buku sejarah sekolah, narasi politik kita terasa begitu maskulin? Panggung besar Republik ini hanya diisi oleh deretan pria berjas atau berbaju tentara yang sedang berdebat. Jujur saja, politik sering kali ditulis seolah-olah ia netral gender. Jika kita selami lebih dalam, dunia politik kita dibangun di atas asumsi tertentu tentang siapa yang layak disebut “subjek” dan siapa yang hanya dianggap sebagai “pendukung.”
Dalam sejarah panjang Indonesia, narasi besar perjuangan kemerdekaan kita memang lebih sering menempatkan laki-laki sebagai aktor utama. Sementara itu, perempuan? Mereka sering kali muncul hanya sebagai pelengkap moral—sebagai ibu bangsa yang teduh, penjaga garis belakang di dapur umum, atau simbol pengorbanan yang mengharukan. Di titik inilah, saya merasa perlu mengajak Anda membaca kembali pemikiran sang “Bapak Republik,” Tan Malaka. Lewat kacamata Tan Malaka, kita bisa menemukan celah untuk melihat peran perempuan dalam revolusi dari sudut pandang yang berbeda, meski harus kita akui, pemikirannya pun tidak sepenuhnya lengkap.
Tan Malaka memang tidak pernah secara khusus menulis buku teori tentang perempuan. Beliau bukan seorang feminis dalam pengertian konseptual modern yang kita kenal sekarang. Namun, justru dari “ketidakhadiran” narasi spesifik itulah, saya menemukan sesuatu yang krusial: bagi Tan, perempuan tidak pernah benar-benar berada di luar lingkaran politik. Mereka bukan sekadar “isu tambahan” atau bumbu pemanis pergerakan. Mereka adalah bagian integral dari rakyat yang harus bergerak secara total.
Rasionalitas: Kunci Pembebasan Manusia
Mari kita bicarakan soal Madilog. Dalam mahakaryanya tersebut, Tan Malaka menawarkan sebuah proyek ambisius: membebaskan cara berpikir manusia dari belenggu mistisisme, irasionalitas, dan struktur feodal yang menjerat. Meski beliau tidak bicara secara eksplisit tentang “masalah perempuan,” beliau bicara tentang manusia yang tertindas. Dan di sanalah, di barisan paling depan ketindasan itu, perempuan berdiri.
Pendekatan Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog) menuntut kita untuk melihat realitas secara konkret. Jika kita terapkan logika ini pada posisi perempuan di masa kolonial, kita akan melihat sebuah pola yang jelas. Perempuan yang dibatasi akses pendidikannya, dikurung dalam norma domestik yang kaku, dan dijauhkan dari ruang publik bukanlah sebuah “kodrat” atau sesuatu yang “alamiah.” Itu adalah hasil dari kondisi material dan relasi kekuasaan yang timpang.
Baca juga: S.K. Trimurti: Pendidikan Adalah Senjata, Buruh Adalah Nyawa
Saya melihat bahwa Tan Malaka meletakkan landasan yang sangat kuat di sini: pembebasan harus dimulai dari cara berpikir. Tanpa rasionalitas, tidak akan ada kesadaran. Dan tanpa kesadaran, revolusi hanyalah mimpi di siang bolong. Karena revolusi membutuhkan keterlibatan seluruh umat manusia—termasuk perempuan—maka peran perempuan dalam revolusi menjadi syarat mutlak, bukan sekadar pelengkap penderita.
Namun, sebagai catatan kritis kita bersama, di sinilah letak batas pemikiran Tan. Beliau tidak secara gamblang membedah bagaimana patriarki bekerja sebagai sistem yang otonom. Beliau tampaknya menganggap penindasan terhadap perempuan akan otomatis hilang begitu feodalisme dan kolonialisme tumbang. Padahal, sejarah membuktikan bahwa meski struktur ekonomi berubah, bayang-bayang patriarki sering kali tetap menghantui.
Membongkar Feodalisme dan Kontrol atas Tubuh Perempuan
Satu hal yang saya kagumi dari Tan Malaka adalah keberaniannya menyerang feodalisme. Baginya, feodalisme bukan cuma sistem politik, tapi mentalitas yang merusak: mentalitas tunduk pada hierarki dan anti-kritik. Dan kalau kita mau jujur, mentalitas feodal inilah yang paling keras menghantam perempuan.
Dalam masyarakat feodal, perempuan sering kali ditempatkan dalam posisi yang sangat sempit. Mereka harus dijaga, dibatasi, dan dikontrol ketat. Tubuh dan gerak perempuan menjadi simbol “kehormatan” keluarga, bukan individu merdeka yang punya kehendak politik sendiri. Praktik pingitan atau pembatasan akses pendidikan bukan sekadar tradisi kuno, melainkan mekanisme kekuasaan untuk memastikan perempuan tetap berada di bawah kendali.
Meskipun Tan Malaka tidak menggunakan istilah “patriarki,” kritiknya terhadap feodalisme secara otomatis membuka pintu bagi kita untuk melihat bagaimana sistem tersebut membelenggu perempuan. Dalam logika dialektikanya, setiap struktur yang menghambat kebebasan manusia—apa pun bentuknya—harus dihancurkan.
Jika kita bandingkan dengan sosok R.A. Kartini, pendekatannya terasa sangat kontras namun saling melengkapi. Kartini menulis dari luka personal dan pengalaman batin sebagai perempuan bangsawan Jawa. Sementara Tan Malaka berbicara dari analisis struktural yang dingin: kelas, kolonialisme, dan revolusi. Jika Kartini menyentuh luka, maka Tan Malaka mencoba membongkar sistem yang menyebabkan luka itu ada.
Perempuan sebagai Bagian dari Massa Revolusioner
Bagi Tan Malaka, subjek utama dalam perubahan politik adalah massa rakyat. Beliau adalah penganut setia keyakinan bahwa perubahan sejati tidak datang dari segelintir elite di menara gading, melainkan dari rakyat yang sadar dan terorganisir. Dalam pandangan ini, tentu saja tidak ada alasan logis untuk meminggirkan perempuan.
Perempuan, khususnya dari kelas pekerja dan petani, adalah bagian nyata dari massa tersebut. Mereka mengalami eksploitasi yang berlapis: ekonomi, sosial, sekaligus politik. Jika revolusi bertujuan untuk menghapus segala bentuk ketidakadilan, maka peran perempuan dalam revolusi bukan hanya sebagai pengikut, melainkan sebagai mesin penggerak perjuangan itu sendiri.
Tetapi, ada satu kekosongan yang saya rasakan saat mendalami pemikiran beliau. Tan Malaka tidak merinci bagaimana keterlibatan itu seharusnya diatur. Beliau tidak membahas soal “beban ganda” (perempuan yang bekerja di pabrik sekaligus mengurus rumah tangga) atau kekerasan berbasis gender yang spesifik dialami perempuan. Di sinilah pemikiran beliau terasa seperti berhenti di tengah jalan jika kita bandingkan dengan pemikir seperti Simone de Beauvoir.
Beauvoir pernah berkata bahwa perempuan tidak dilahirkan, melainkan “dijadikan.” Ada konstruksi sosial yang sengaja menciptakan posisi perempuan sebagai “Yang Lain” (“The Other”). Tan Malaka mungkin belum sampai pada kesimpulan itu, tapi beliau sudah memberi kita alat analisis untuk mencapainya.
Simak: Hannah Arendt Menulis dalam Sunyi
Pendidikan: Jalan Panjang Menuju Emansipasi
Ada satu benang merah yang sangat jelas dalam seluruh napas pemikiran Tan Malaka: pendidikan adalah segalanya. Beliau yakin bahwa kesadaran politik tidak akan jatuh dari langit; ia harus ditempa melalui proses belajar yang kritis.
Dalam konteks ini, saya rasa Tan sangat progresif. Beliau memandang bahwa perempuan tidak boleh dibiarkan tetap di pinggiran hanya karena mereka tidak diberi kesempatan untuk belajar. Pendidikan, bagi Tan Malaka, adalah senjata pembebasan yang paling ampuh. Tanpa akses terhadap ilmu pengetahuan, perempuan akan tetap terjebak dalam mitos-mitos lama yang melemahkan posisi tawar mereka.
Namun, mari kita renungkan sejenak: pendidikan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan? Apakah sekadar bisa membaca dan menulis, atau pendidikan yang secara sadar membongkar ketimpangan gender? Tan Malaka memang tidak memberikan detail teknisnya, tapi beliau telah memberi kita arah. Pendidikan haruslah membebaskan, bukan sekadar menjadikannya sekrup dalam mesin industri atau birokrasi.
Berdiri di Antara Harapan dan Realitas
Membaca Tan Malaka di era sekarang membuat saya merasa seperti berdiri di sebuah jembatan. Di satu sisi, ada fondasi yang sangat kuat tentang pembebasan manusia secara total. Di sisi lain, ada kekosongan yang masih perlu kita isi sendiri terkait pengalaman unik perempuan.
Apakah pemikiran Tan Malaka masih relevan? Tentu saja. Beliau mengingatkan kita bahwa perjuangan perempuan tidak bisa dilepaskan dari perjuangan politik yang lebih besar. Pembebasan perempuan tidak akan pernah tuntas jika ia hanya bersifat individual tanpa mengubah struktur masyarakat yang menindas. Namun, kita juga diingatkan bahwa tanpa analisis gender yang tajam, perempuan bisa saja ikut dalam revolusi, tapi tetap tidak benar-benar merdeka setelah revolusi itu usai.
Tan Malaka mungkin tidak mewariskan kita sebuah buku teks tentang feminisme. Tapi beliau mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah keyakinan bahwa revolusi yang sejati harus melibatkan setiap napas manusia. Tugas kita sekarang adalah mengisi celah-celah yang ditinggalkan beliau.
Kita harus memastikan bahwa peran perempuan dalam revolusi tidak lagi dipahami sebagai peran pendukung di balik layar. Jika revolusi hanya mengganti siapa yang duduk di kursi kekuasaan tanpa mengubah cara kekuasaan itu bekerja terhadap perempuan, maka kita sebenarnya belum benar-benar berrevolusi.
Sudah saatnya kita memastikan bahwa dalam setiap pergerakan menuju perubahan, perempuan tidak hanya hadir sebagai peserta yang meramaikan barisan, tetapi sebagai penentu arah dan pemegang kemudi sejarah. Karena tanpa perempuan, revolusi itu sendiri hanyalah sebuah perubahan yang pincang.
Referensi
- Malaka, Tan. Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika.
- Beauvoir, Simone de. The Second Sex.
- Kartini, R.A. Habis Gelap Terbitlah Terang.
- Fakih, Mansour. Analisis Gender dan Transformasi Sosial.
- Blackburn, Susan. Women and the State in Modern Indonesia.








