Oleh
Novelita Sihombing (*)
Setiap kali seorang perempuan berbicara tentang kesetaraan, tidak jarang ia disebut sebagai feminis. Sayangnya, istilah tersebut masih sering dipahami secara keliru. Feminis kerap dianggap sebagai perempuan yang membenci laki-laki atau ingin menempatkan perempuan di atas laki-laki. Pertanyaannya, apakah feminisme sesederhana itu?
Saya pernah mengamati bagaimana seorang perempuan yang menyampaikan pendapat dengan tegas dalam sebuah diskusi justru dianggap sedang mencari perhatian. Nada bicaranya dipersoalkan, sikapnya dinilai terlalu keras, bahkan keberaniannya menyampaikan pendapat dianggap sebagai bentuk perlawanan. Namun, ketika laki-laki menyampaikan pendapat dengan nada yang sama, ia justru sering dipandang sebagai sosok yang berani, tegas, dan memiliki jiwa kepemimpinan.
Ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki masih sering dinilai dengan ukuran yang berbeda. Ketegasan pada laki-laki dianggap sebagai kepemimpinan, sementara ketegasan pada perempuan dianggap sebagai sikap emosional atau keinginan untuk mendominasi. Dari sinilah kesalahpahaman terhadap feminisme sering bermula.
Di tengah masyarakat yang masih memandang laki-laki sebagai pemimpin utama dan perempuan sebagai pihak yang harus mengikuti, suara perempuan yang menuntut kesetaraan sering dianggap sebagai bentuk perlawanan. Perempuan yang berani menyampaikan pendapat disebut terlalu keras. Perempuan yang menolak perlakuan tidak adil dianggap tidak tahu diri. Bahkan, perempuan yang memperjuangkan haknya tidak jarang disebut ingin mengalahkan laki-laki. Padahal, feminisme bukanlah gerakan untuk membuat perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Feminisme merupakan gerakan pemikiran dan sosial yang memperjuangkan hak, kesempatan, serta martabat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Kesetaraan tersebut mencakup pendidikan, pekerjaan, politik, ekonomi, hukum, keluarga, dan kehidupan.
Baca: Apakah Indonesia Benar-Benar Membutuhkan 10 Universitas Republik Indonesia?
Memahami Makna Feminisme
Secara sederhana, feminisme berangkat dari kesadaran bahwa perempuan masih mengalami berbagai bentuk ketidakadilan hanya karena mereka adalah perempuan. Ketidakadilan tersebut dapat terlihat dalam bentuk diskriminasi, kekerasan, pembatasan ruang gerak, pembagian peran yang tidak seimbang, serta anggapan bahwa perempuan tidak layak mengambil keputusan penting.
Feminisme mempertanyakan keadaan ketika seorang perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki, tetapi tidak memperoleh kesempatan yang sama. Feminisme juga mempertanyakan mengapa pekerjaan rumah tangga sering dianggap sebagai kewajiban perempuan, sementara pekerjaan laki-laki di ruang publik dianggap lebih penting?
Dalam konteks ini, feminisme tidak mengajarkan perempuan untuk membenci laki-laki. Feminisme mengajak masyarakat untuk melihat kembali aturan, kebiasaan, dan cara berpikir yang selama ini dianggap wajar, tetapi sebenarnya dapat menempatkan perempuan dalam posisi yang tidak adil. Perempuan berhak memperoleh akses yang sama terhadap pendidikan, pekerjaan, penghasilan, jabatan, politik, dan perlindungan hukum. Seorang perempuan seharusnya memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, serta menduduki posisi kepemimpinan tanpa dibatasi oleh anggapan bahwa perempuan tidak cukup tegas atau tidak mampu mengambil keputusan. Perempuan tidak meminta perlakuan khusus hanya karena ia perempuan. Perempuan menuntut agar kemampuan, kerja keras, dan pilihannya dinilai secara adil.
Ketidakadilan yang Tidak Selalu Terlihat
Ketidakadilan terhadap perempuan tidak hanya muncul dalam bentuk larangan yang jelas. Ketidakadilan juga dapat tumbuh dari struktur sosial dan budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang dominan, sedangkan perempuan ditempatkan sebagai pihak yang harus patuh.
Seorang perempuan mungkin telah diberi kesempatan untuk bekerja di luar rumah. Namun, apabila ia tetap dibebani seluruh pekerjaan rumah tangga, dan tanggung jawab keluarga tanpa pembagian yang adil, kesetaraan belum benar-benar terwujud.
Perempuan memang telah memperoleh izin untuk bekerja, tetapi masih dituntut untuk menjalankan semua tanggung jawab domestik seorang diri. Pada keadaan seperti ini, persoalannya bukan lagi sekadar apakah perempuan boleh bekerja, melainkan apakah tanggung jawab dalam keluarga telah dibagi secara adil. Hal yang sama dapat dilihat dalam ruang publik. Perempuan yang berbicara dengan tegas sering disebut emosional, sedangkan laki-laki yang melakukan hal serupa dianggap berwibawa. Perempuan yang memiliki ambisi disebut terlalu mengejar karier, sementara laki-laki yang memiliki ambisi dianggap sedang membangun masa depan.
Simak juga: Ketika Feminisme Dianggap Ancaman bagi Lelaki
Kritik terhadap Patriarki Bukan Kebencian
Salah satu kesalahpahaman terbesar terhadap feminisme adalah anggapan bahwa kritik terhadap patriarki sama dengan kebencian terhadap laki-laki. Padahal, feminisme tidak menyamakan semua laki-laki dan tidak menganggap bahwa setiap laki-laki adalah sumber masalah. Yang dikritik adalah sistem, kebiasaan, dan pola pikir yang menempatkan perempuan lebih rendah. Kritik terhadap budaya patriarki bukan berarti membenci laki-laki. Sama seperti kritik terhadap korupsi bukan berarti membenci semua orang yang bekerja di pemerintahan.
Feminisme ingin menunjukkan bahwa relasi yang tidak seimbang dapat merugikan siapa saja. Perempuan dirugikan ketika tidak diberi ruang untuk menentukan hidupnya. Namun, laki-laki juga dapat dirugikan ketika dipaksa untuk selalu kuat, tidak boleh menangis, harus menjadi satu-satunya pencari nafkah, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan.
Karena itu, laki-laki tidak seharusnya ditempatkan sebagai musuh dalam perjuangan kesetaraan. Laki-laki justru dapat menjadi bagian penting dari perubahan. Mereka dapat terlibat dalam pembagian pekerjaan rumah tangga, mendukung pendidikan perempuan, menghormati pilihan perempuan, menolak kekerasan, serta berani mengkritik candaan dan perilaku yang merendahkan perempuan. Kesetaraan bukan tanggung jawab perempuan semata. Kesetaraan merupakan tanggung jawab bersama.
Kesetaraan Bukan Berarti Menjadi Sama
Kesetaraan tidak berarti perempuan dan laki-laki harus menjadi sama dalam segala hal. Kesetaraan berarti keduanya memiliki hak, kesempatan, penghargaan, dan perlindungan yang sama sebagai manusia. Dalam bidang pendidikan, kesetaraan berarti perempuan berhak memperoleh kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kemampuan. Dalam dunia kerja, kesetaraan berarti perempuan berhak dinilai berdasarkan kompetensi, bukan berdasarkan stereotip tentang jenis kelamin.
Dalam keluarga, kesetaraan berarti keputusan penting tidak hanya ditentukan oleh satu pihak. Pekerjaan domestik dan pengasuhan juga seharusnya dipandang sebagai tanggung jawab bersama. Perempuan tidak seharusnya dianggap gagal hanya karena memilih bekerja, dan tidak pula direndahkan ketika memilih mengurus keluarga.
Dalam hukum, kesetaraan berarti perempuan berhak memperoleh perlindungan dari kekerasan, pelecehan, diskriminasi, dan perlakuan yang merendahkan martabat. Sementara itu, dalam kehidupan sosial, kesetaraan berarti perempuan memiliki ruang untuk berbicara, memimpin, berpendapat, dan menentukan pilihan hidupnya.
Kesetaraan juga tidak berarti semua perempuan harus memilih jalan hidup yang sama. Ada perempuan yang ingin berkarier, ada yang ingin menjadi ibu rumah tangga, ada yang memilih berwirausaha, dan ada pula yang mengabdikan dirinya dalam kegiatan sosial.
Feminisme seharusnya memberi ruang bagi perempuan untuk menentukan pilihannya sendiri, bukan mengganti satu tekanan dengan tekanan lainnya. Perempuan tidak boleh dipaksa untuk tinggal di rumah, tetapi juga tidak boleh dipaksa untuk bekerja di luar rumah demi membuktikan bahwa dirinya berdaya. Yang paling penting adalah kebebasan untuk memilih tanpa tekanan, diskriminasi, dan penghakiman.
Menurut saya, feminisme seharusnya tidak berhenti pada kritik. Feminisme juga harus membangun relasi yang lebih adil antara perempuan dan laki-laki. Kesetaraan tidak akan tercapai jika hanya dibebankan kepada perempuan. Perempuan memang perlu berani menyuarakan haknya. Namun, laki-laki juga perlu bersedia mendengar, memahami, dan mengevaluasi kembali peran yang selama ini dianggap biasa.
Keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, dan masyarakat harus menciptakan ruang yang tidak membatasi seseorang hanya karena jenis kelaminnya. Perubahan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Di dalam keluarga, anak laki-laki dan perempuan dapat diajarkan untuk berbagi pekerjaan rumah. Di lingkungan pendidikan, perempuan harus diberi kesempatan yang sama untuk memimpin. Di ruang publik dan media sosial, pendapat perempuan tidak boleh langsung dianggap berlebihan hanya karena disampaikan dengan tegas.
Feminisme bukan tentang siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah. Feminisme bukan pula perang antara perempuan dan laki-laki. Feminisme adalah perjuangan untuk memastikan bahwa setiap orang dapat hidup dengan hak, kesempatan, dan martabat yang setara.
Perempuan tidak sedang berusaha mengambil tempat laki-laki. Perempuan hanya ingin memiliki ruang yang sama untuk belajar, bekerja, berbicara, memimpin, memilih, dan menentukan masa depannya. Laki-laki tidak sedang diminta untuk kehilangan kedudukannya. Laki-laki hanya diajak untuk membangun hubungan yang lebih adil.
Karena itu, feminisme tidak seharusnya dipahami sebagai gerakan anti-laki-laki. Feminisme adalah gerakan melawan ketidakadilan, diskriminasi, kekerasan, dan dominasi yang merugikan perempuan.
(*) Mahasiswa Fakultas Hukum UHN, Medan




