Besli Pangaribuan
Di kampus teknik yang selama ini dibayangkan sebagai ruang meritokrasi, rasionalitas, dan kecanggihan intelektual, tubuh perempuan ternyata masih bisa diperlakukan seperti bahan tambang: dieksplorasi, ditertawakan, lalu diwariskan sebagai tradisi. Polemik lagu “Erika” yang dinyanyikan Orkes Semi Dangdut Himpunan Mahasiswa Tambang ITB membuka sesuatu yang selama ini disembunyikan oleh romantisme budaya kampus: misogini sering kali hidup bukan sebagai penyimpangan, tetapi sebagai kebiasaan kolektif yang dianggap lucu.
Saya mendengar potongan lirik itu dengan rasa muak yang sulit dijelaskan. “Erika buka celana…” bukan sekadar syair vulgar. Ia adalah bahasa kuasa. Tubuh perempuan diposisikan sebagai objek hiburan massal, sementara laki-laki menjadi penonton yang diberi legitimasi untuk menertawakan, mengomentari, dan mengonsumsi tubuh tersebut bersama-sama. Lagu itu bukan berdiri sendiri. Ia lahir dari kultur yang memungkinkan pelecehan dianggap nostalgia.
Yang membuat saya gelisah bukan hanya liriknya, tetapi bagaimana banyak orang buru-buru membelanya atas nama “tradisi lama”, “candaan anak teknik”, atau “budaya angkatan”. Seolah waktu dapat mencuci penghinaan menjadi folklor. Padahal tidak semua yang diwariskan layak dirawat.
Baca juga:Kampus Aman yang Retak
Tradisi Maskulin Bourdieu
Pierre Bourdieu pernah menjelaskan bahwa kekuasaan paling efektif bekerja ketika ia tampak normal. Kekerasan simbolik terjadi bukan melalui pukulan, tetapi lewat kebiasaan sehari-hari yang diterima tanpa pertanyaan. Lagu “Erika” bekerja persis di situ.
Kampus teknik di Indonesia sejak lama dibangun di atas kultur maskulinitas yang keras: senioritas, glorifikasi tahan banting, humor seksual, dan romantisasi laki-laki lapangan. Dalam banyak himpunan, terutama yang identik dengan pekerjaan ekstraktif seperti tambang, identitas laki-laki dibentuk melalui performa keberanian dan dominasi. Akibatnya, perempuan sering hadir hanya sebagai simbol pelengkap—bukan subjek setara.
Saya membayangkan bagaimana lagu itu dinyanyikan beramai-ramai sambil tertawa. Tidak ada yang merasa sedang melakukan pelecehan karena semuanya telah dibungkus ritual kebersamaan. Di titik itulah misogini menjadi berbahaya: ketika ia berhenti tampak seperti kebencian dan berubah menjadi tradisi organisasi.
Permintaan maaf HMT-ITB memang penting, tetapi persoalannya jauh lebih dalam daripada sekadar evaluasi lagu. Yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana ruang akademik bisa begitu lama memelihara budaya yang menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan humor kolektif.
Simak Juga:Rape Academy Mengguncang Dunia
Male Gaze dan Humor Seksis
Laura Mulvey menyebut konsep male gaze sebagai cara pandang yang menempatkan perempuan semata sebagai objek visual laki-laki. Dalam lagu “Erika”, tubuh perempuan bahkan bukan lagi manusia utuh, melainkan fragmen-fragmen seksual yang dipecah menjadi pinggul, celana, dan sensasi erotik.
Yang membuat saya sedih, syair seperti itu tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari kebudayaan populer yang terus mengajarkan bahwa perempuan lucu ketika direndahkan. Dari tongkrongan, ospek, meme internet, sampai lagu-lagu organisasi mahasiswa, semuanya sering memakai pola serupa: perempuan dijadikan materi hiburan agar solidaritas laki-laki terasa semakin intim.
Ironisnya, ini terjadi di institusi pendidikan tinggi. Tempat yang seharusnya melatih sensitivitas etis justru kadang memproduksi banalitas kekerasan. Ketika mahasiswa menyanyikan lirik yang merendahkan perempuan secara massal, persoalannya bukan lagi individu cabul. Itu sudah menjadi kultur.
Saya tidak percaya argumen “itu cuma lagu lama tahun 1980-an.” Banyak hal berasal dari masa lalu, tetapi tidak semuanya pantas dipertahankan. Dulu orang juga menganggap pelecehan verbal sebagai candaan biasa. Dulu perempuan sering dipaksa diam demi menjaga nama baik organisasi. Dulu korban dianggap terlalu sensitif.
Masalahnya, kita hidup hari ini, bukan di nostalgia patriarki.
Solidaritas dan Patriarki Kampus
bell hooks berkali-kali menulis bahwa patriarki bukan hanya menyakiti perempuan, tetapi juga membentuk laki-laki agar memandang dominasi sebagai identitas. Karena itu, membongkar budaya misoginis di kampus bukan berarti membenci laki-laki teknik, melainkan menyelamatkan mereka dari warisan kekerasan yang dianggap normal.
Saya justru percaya banyak mahasiswa laki-laki sebenarnya merasa tidak nyaman, tetapi takut dianggap tidak solid jika menolak ikut tertawa. Dalam kultur organisasi yang kuat, kritik sering dibaca sebagai pengkhianatan terhadap tradisi. Akibatnya, orang memilih diam meski sadar ada yang salah.
Polemik lagu “Erika” penting karena ia membuka percakapan yang selama ini ditekan: tentang seksisme di kampus, tentang humor yang melecehkan, dan tentang bagaimana institusi akademik sering gagal membaca perubahan sosial. Ketika publik marah, itu bukan karena masyarakat mendadak anti-humor. Publik marah karena perempuan sudah terlalu lama dijadikan objek hiburan tanpa consent.
Dan mungkin untuk pertama kalinya, banyak orang berkata: cukup.
Saya membayangkan ada mahasiswi yang menonton video itu sambil merasa asing di kampusnya sendiri. Ada perempuan yang harus tertawa agar tidak dianggap baper. Ada korban pelecehan yang mendengar lagu itu sebagai pengingat bahwa tubuh mereka masih dianggap konsumsi publik.
Kita terlalu sering mengira kekerasan hanya hadir dalam bentuk kriminal besar. Padahal budaya yang menormalisasi penghinaan adalah tanah subur bagi kekerasan yang lebih serius.
Karena itu, persoalan “Erika” tidak selesai dengan take down video atau klarifikasi humas kampus. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengakui bahwa beberapa tradisi memang harus dihentikan. Bahwa solidaritas organisasi tidak boleh dibangun di atas penghinaan terhadap perempuan. Dan bahwa kampus, seberapa pun elitnya, tetap bisa menjadi ruang reproduksi patriarki jika tidak mau bercermin.
Lagu itu bukan sekadar tentang Erika, namun tentang bagaimana perempuan masih terus diperlakukan sebagai wilayah tambang: digali, dieksploitasi, lalu ditinggalkan ketika kritik datang.
Referensi
- Pierre Bourdieu. Masculine Domination. Stanford University Press, 2001.
- Laura Mulvey. “Visual Pleasure and Narrative Cinema.” Screen Journal, 1975.
- bell hooks. Feminism is for Everybody. South End Press, 2000.
- Pernyataan resmi HMT-ITB terkait lagu “Erika”.
- Laporan polemik lagu “Erika” dan kritik publik.









