Diaspora Buruh Migran Perempuan Indonesia

Rahim Dikorbankan Demi Industri

April 29, 2026

Besli Pangaribuan

April 30, 2026

Diaspora Buruh Migran Perempuan Indonesia

Fenomena diaspora buruh migran perempuan Indonesia bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga menjadi gambaran nyata dari ketimpangan global yang terstruktur. Dalam sistem kapitalisme transnasional, perempuan dari negara berkembang seperti Indonesia sering ditempatkan sebagai tenaga kerja murah untuk memenuhi kebutuhan domestik dan sektor informal di negara tujuan.

Di balik sebutan “pahlawan devisa,” terdapat realitas yang jauh lebih kompleks. Buruh migran perempuan menghadapi risiko eksploitasi kerja, kekerasan, diskriminasi sosial, hingga ketidakjelasan perlindungan hukum. Mereka menjadi bagian penting dalam ekonomi global, tetapi sering kali tidak memperoleh hak yang setara sebagai pekerja maupun sebagai manusia.

Kondisi ini melahirkan istilah *tubuh tanpa negara*, yaitu situasi ketika pekerja migran perempuan tidak sepenuhnya dilindungi oleh negara asal dan juga tidak sepenuhnya diakui oleh negara tujuan.

Buruh Migran Perempuan Indonesia dalam Sistem Ketimpangan Global

Stephen Castles, Hein de Haas, dan Mark J. Miller dalam The Age of Migration menjelaskan bahwa migrasi internasional merupakan hasil dari ketimpangan pembangunan global. Negara-negara berkembang berfungsi sebagai pemasok tenaga kerja murah, sementara negara maju menjadi pusat penyerapan tenaga kerja yang membutuhkan fleksibilitas tinggi dengan biaya rendah.

Lihat Profil Penulis: Besli Pangaribuan

Indonesia menjadi salah satu negara pengirim pekerja migran terbesar, terutama perempuan yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga, pengasuh lansia, dan sektor jasa domestik lainnya. Migrasi ini sering kali bukan pilihan bebas, melainkan strategi bertahan hidup akibat keterbatasan lapangan kerja, rendahnya upah, dan tekanan ekonomi keluarga.

Saskia Sassen dalam Guests and Aliens menegaskan bahwa globalisasi justru memperkuat eksklusi sosial. Buruh migran dibutuhkan secara ekonomi, tetapi sering dikeluarkan dari perlindungan sosial dan politik. Mereka hadir sebagai tenaga kerja, bukan sebagai warga yang memiliki hak penuh.

Kondisi ini menciptakan ketergantungan struktural: negara asal bergantung pada remitansi, sedangkan negara tujuan bergantung pada tenaga kerja murah yang rentan dan mudah dikendalikan.

Buruh Migran Perempuan dan Perspektif Biopolitik

Michel Foucault melalui konsep disiplin dan kontrol menjelaskan bahwa tubuh manusia dalam sistem modern menjadi objek pengawasan kekuasaan. Dalam konteks buruh migran perempuan, tubuh mereka tidak hanya menjadi alat produksi, tetapi juga objek regulasi melalui sistem visa, kontrak kerja, kebijakan imigrasi, dan pembatasan ruang gerak.

Pekerja migran perempuan menghadapi berbagai bentuk kerentanan, mulai dari jam kerja berlebihan, upah yang tidak dibayar, kekerasan verbal, kekerasan fisik, hingga pelecehan seksual. Mereka yang bekerja di sektor domestik berada pada posisi paling rentan karena bekerja di ruang privat yang sulit dijangkau oleh pengawasan negara.

Status hukum yang tidak jelas, seperti dokumen tidak lengkap atau overstay, semakin memperparah kondisi tersebut. Banyak korban memilih diam karena takut deportasi atau kehilangan pekerjaan.

Dalam situasi ini, tubuh perempuan migran menjadi simbol “tubuh tanpa negara”—tubuh yang bekerja untuk sistem global, tetapi tidak memiliki perlindungan yang memadai dari negara mana pun.

Diaspora, Identitas, dan Resistensi Buruh Migran Perempuan

Stuart Hall menjelaskan bahwa identitas selalu berada dalam proses negosiasi. Diaspora buruh migran perempuan Indonesia menunjukkan bagaimana identitas dibentuk ulang melalui pengalaman hidup di negara asing.

Mereka harus beradaptasi dengan budaya baru, bahasa baru, dan norma sosial yang berbeda, sambil tetap mempertahankan hubungan emosional dengan kampung halaman. Kondisi ini menciptakan identitas hibrid—tidak sepenuhnya berada di rumah, tetapi juga tidak sepenuhnya diterima di tempat baru.

Sebagai bentuk perlindungan sosial, banyak pekerja migran perempuan membangun komunitas informal sesama diaspora. Komunitas ini menjadi ruang solidaritas untuk berbagi informasi pekerjaan, bantuan hukum, dukungan emosional, hingga perlindungan dari kekerasan.

Namun, diaspora juga menghadirkan diskriminasi rasial, stereotip negatif, dan marginalisasi sosial. Buruh migran perempuan sering dipandang rendah karena pekerjaan domestik yang mereka lakukan dianggap tidak bernilai tinggi.

Meski demikian, mereka bukan sekadar korban. Organisasi buruh migran, advokasi hukum, hingga penggunaan media sosial menjadi bentuk resistensi nyata dalam memperjuangkan hak, keadilan, dan martabat mereka.

Tulisan Lain: Tubuh dalam Kuasa

Tubuh Tanpa Negara dan Perjuangan Hak Pekerja Migran

Laporan dari International Labour Organization (ILO) dan International Organization for Migration (IOM) menunjukkan bahwa pekerja migran perempuan masih menghadapi tantangan besar dalam perlindungan kerja, akses terhadap keadilan, dan jaminan keselamatan sosial.

Masalah utama tidak hanya terletak pada eksploitasi individu, tetapi juga pada sistem global yang menormalisasi kerentanan tersebut. Negara sering kali lebih fokus pada manfaat ekonomi remitansi dibanding perlindungan hak pekerja migran.

Istilah *tubuh tanpa negara* menjadi kritik terhadap absennya perlindungan yang seharusnya diberikan negara kepada warganya. Buruh migran perempuan menjadi subjek yang hadir secara ekonomi, tetapi sering dihilangkan secara politik dan hukum.

Perjuangan hak pekerja migran tidak hanya soal regulasi tenaga kerja, tetapi juga tentang pengakuan martabat manusia dan keadilan sosial lintas negara. Diaspora buruh migran perempuan Indonesia menunjukkan bahwa migrasi bukan sekadar perpindahan tenaga kerja, tetapi juga perpindahan tubuh, identitas, dan kerentanan dalam sistem global yang timpang.

Mereka menopang ekonomi keluarga, negara, bahkan ekonomi internasional, tetapi sering kali tanpa perlindungan yang setara. Buruh migran perempuan hidup di antara kebutuhan ekonomi dan ketidakpastian hukum yang terus membayangi. Memahami persoalan ini membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi, bukan hanya melihat angka remitansi, tetapi juga pengalaman hidup, perjuangan, dan hak-hak dasar mereka sebagai manusia. Fenomena diaspora buruh migran perempuan Indonesia menjadi pengingat bahwa persoalan mereka adalah persoalan keadilan sosial global yang harus mendapat perhatian serius dari negara, masyarakat, dan dunia internasional.

Referensi

  •  Castles, Stephen, Hein de Haas, dan Mark J. Miller. The Age of Migration: International Population Movements in the Modern World. 6th Edition. The Guilford Press, 2020.
  • Sassen, Saskia. Guests and Aliens. The New Press, 1999.
  • Foucault, Michel. Discipline and Punish: The Birth of the Prison. Vintage Books, 1995.
  • Hall, Stuart. “Cultural Identity and Diaspora.” dalam *Identity: Community, Culture, Difference*. Lawrence & Wishart, 1990.
  • International Labour Organization (ILO). World Employment and Social Outlook: Trends 2023. Geneva: ILO, 2023.
  • International Organization for Migration (IOM). *World Migration Report 2024*. Geneva: IOM, 2024.
  • Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). Data Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Tahun 2024. Jakarta: BP2MI, 2024.

 

Post Terkait

  • Perempuan, Rumah Tangga, dan Kelelahan Emosional
    Ada perubahan besar dalam kehidupan perempuan Indonesia dalam dua dekade terakhir. Perempuan kini semakin banyak hadir di ruang publik, memiliki […]
  • Babu, Riwayatmu Kini
    Sejarah kata sering kali lebih jujur daripada sejarah bangsa. Kata “babu” adalah salah satunya—sebuah istilah yang tampak sederhana, tetapi menyimpan […]
  • Buruh dan Serikat Pekerja Perempuan
    Buruh perempuan selalu hadir dalam sejarah buruh Indonesia, tetapi jarang benar-benar menjadi pusat cerita. Mereka bekerja, menopang industri, dan menjaga […]
  • Jejak, Tuntutan, Solidaritas
    Setiap tanggal 1 Mei, jalan-jalan di berbagai kota dunia dipenuhi warna merah, poster tuntutan, dan suara lantang yang menolak dilupakan. […]
  • Gerbong Khusus Perempuan: Aman atau Rentan?
    Perbincangan tentang gerbong khusus perempuan di KRL kembali mengemuka setelah kecelakaan yang melibatkan rangkaian kereta di Bekasi Timur pada 26 […]