
Tidak Selalu Ingin Mati, Hanya Ingin Berhenti Merasakan Sakit. (II)
September 10, 2026Medan, 15 September 2026, Melalui acara yang bertajuk Cerita Buku, GMKI Cabang Medan bekerja sama dengan PerempuanBicara membedah novel 02.00 AM: Terjaga dalam Kegelisahan karya Besli Pangaribuan. Kegiatan yang dihadiri lebih dari 30 perwakilan kader Komisariat GMKI Cabang Medan ini berlangsung di PKM GMKI Medan yang terletak di Kawasan Iskandar Muda, Medan. Acara ini dipandu Yoel Siahaan, Ketua GMKI Komisariat UHN Medan sebagai moderator dengan pemantik Samuel Simatupang, Ketua GMKI Cabang Medan.

Baca juga: Hannah Arendt Menulis dalam Sunyi
Novel debutan Besli Pangaribuan ini membawa pembaca pada pergulatan batin seorang tokoh yang berhadapan dengan tiga persoalan besar, yaitu idealisme yang diuji, integritas yang menekan, dan cinta yang harus diam demi citra. Angka 02.00 AM menjadi simbol waktu ketika suasana malam begitu sunyi, tetapi pikiran justru dipenuhi pertanyaan, keraguan, tanggung jawab, serta perasaan yang belum mampu diungkapkan.

Dalam diskusi, Samuel Simatupang menyampaikan bahwa kegelisahan dalam novel tersebut memiliki kedekatan dengan kehidupan seorang kader yang sedang berproses di organisasi. “Bagi saya, yang menarik dari buku ini adalah bagaimana kegelisahan justru menjadi bagian dari proses pendewasaan. Ketika seseorang memimpin, ia tidak hanya berhadapan dengan persoalan organisasi, tetapi juga dengan dirinya sendiri. Ada pilihan yang harus diambil, ada perasaan yang harus dikesampingkan, dan ada prinsip yang harus tetap dipertahankan,” ujar Samuel.
Samuel juga menilai bahwa perjalanan dalam novel tersebut menggambarkan bagaimana idealisme akan selalu berhadapan dengan realitas. “Jangan sampai karena kita takut dengan konflik, kita kehilangan keberanian untuk menyelesaikan persoalan. Dan jangan sampai karena mengejar sesuatu yang kita cintai, kita justru kehilangan nilai dan prinsip yang sejak awal kita perjuangkan,” tambahnya.
Simak juga: Istri Indonesia Tidak Memiliki Nama
Sementara itu, Yoel Siahaan selaku moderator membawa diskusi pada pertanyaan yang lebih reflektif mengenai hubungan antara cinta, kepemimpinan, dan idealisme. Menurutnya, salah satu kegelisahan utama dalam cerita bukan semata-mata karena tokoh tersebut tidak yakin terhadap perasaannya kepada Monik, melainkan karena ia khawatir jatuh cinta membuatnya terlena, kehilangan objektivitas, dan mengganggu cara berpikir serta idealisme yang sedang ia perjuangkan sebagai seorang ketua organisasi.

“Kegelisahan tokoh terhadap Monik menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai persoalan asmara. Ia berada pada persimpangan antara apa yang dirasakan hati dan apa yang menjadi tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Pertanyaannya, ketika kita jatuh cinta, apakah kita masih mampu mempertahankan prinsip, objektivitas, dan arah perjuangan yang selama ini kita yakini?” ujar Yoel.
Pembahasan tersebut kemudian berkembang menjadi diskusi yang hidup. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan, tanggapan, dan pandangan yang disampaikan. Ruang diskusi tidak berjalan hening, tetapi menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai organisasi, kepemimpinan, idealisme, integritas, cinta, dan proses berdamai dengan diri sendiri.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya literasi di lingkungan GMKI Cabang Medan. Setiap perwakilan Komisariat mendapatkan satu eksemplar novel dari penulis untuk dibawa ke Komisariat masing-masing. Buku tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai bahan bacaan pribadi, tetapi menjadi pintu masuk bagi kader untuk membaca, berdiskusi, dan mengembangkan tradisi berpikir kritis di lingkungan Komisariat.

Novel 02.00 AM, Besli Pangaribuan tidak hanya berbicara tentang seseorang yang terjaga pada pukul dua dini hari, namun juga berbicara tentang perjalanan seseorang dalam menghadapi pilihan-pilihan hidup. Mempertahankan idealisme, menyelesaikan dinamika organisasi, menjaga integritas, dan berani menghadapi perasaan yang selama ini dipendam adalah dinamika emosional yang dihadapi para aktivis dewasa ini. Dan Besli menutup novel 02 AM dengan klimaks yang apik. Aktivis yang kini meramu hidupnya antara dunia aktivisme dan professional ini mengakhiri novelnya dengan mengepang bagaimana organisasi berjalan beriringan dengan idealisme dan memperjuangkan cinta antara Belot dan Monik.
Novel ini membawa refleksi bahwa para tokoh yang ada di dalamnya adalah cermin diri pembacanya. (Yoel)





