Penulis: Andreas Pakpahan
Kader GMKI Komisariat UHN Medan Dan Mahasiswa Fakultas psikologi
Tulisan ini adalah lanjutan dari: Tidak Selalu Ingin Mati, Hanya Ingin Berhenti Merasakan Sakit. (I)
Kita sering baru peduli ketika seseorang sudah berada dalam kondisi yang sangat buruk. Kita baru bertanya ketika ia menghilang. Kita baru memperhatikan ketika prestasinya menurun. Kita baru mencari tahu ketika ia berhenti berinteraksi. Kita baru mengatakan bahwa kita menyayanginya ketika semuanya sudah terlambat. Padahal kepedulian tidak seharusnya menjadi reaksi setelah tragedi terjadi. Ia harus menjadi kebiasaan sebelum tragedi.
Mungkin kita dapat mulai dari hal-hal sederhana: menyapa teman yang terlihat berbeda dari biasanya, menghubungi seseorang yang sudah lama tidak terdengar kabarnya, memberikan ruang nyaman bagi orang lain untuk bercerita, atau sekadar mengatakan, “Kalau kamu sedang menghadapi sesuatu, kamu tidak harus menghadapinya sendirian.” Memang, Tidak semua percakapan akan menyelesaikan masalah. Tetapi kita tidak pernah tahu percakapan mana yang mungkin menjadi alasan seseorang bertahan sedikit lebih lama, mencari bantuan, atau menyadari bahwa dirinya masih memiliki tempat di dunia ini.
Memulai percakapan bukan berarti harus menjadi psikolog
Ada kesalahpahaman lain yang perlu kita luruskan: untuk membantu seseorang, kita harus memiliki semua jawaban. Tidak. Teman tidak harus menjadi psikolog. Keluarga tidak harus menjadi psikiater. Dosen tidak harus menjadi terapis. Namun, kita semua dapat menjadi manusia yang bersedia mendengarkan.
Memulai percakapan dapat sesederhana menanyakan bagaimana keadaan seseorang dengan sungguh-sungguh. Mendengarkan tanpa terburu-buru memberikan nasihat. Mengakui bahwa rasa sakit yang dialaminya nyata. Dan ketika situasinya membutuhkan bantuan profesional atau terdapat risiko keselamatan, membantu orang tersebut terhubung dengan tenaga kesehatan mental atau layanan darurat yang sesuai dengan kondisinya.
Tentu saja, percakapan saja bukan solusi untuk seluruh persoalan bunuh diri. Teori dan penelitian tentang bunuh diri menunjukkan bahwa proses dari munculnya ide bunuh diri menuju tindakan merupakan proses yang kompleks dan melibatkan faktor-faktor yang berbeda. Karena itu, pencegahan membutuhkan pendekatan yang lebih luas, termasuk dukungan sosial, intervensi psikologis, layanan kesehatan mental, serta kebijakan kesehatan masyarakat. Namun, percakapan tetap memiliki tempat yang penting. Karena, sebelum seseorang mendapatkan bantuan profesional, sering kali ada satu momen ketika seseorang harus terlebih dahulu berani mengatakan: “Aku sedang tidak baik-baik saja.” Dan sebelum kalimat itu keluar, harus ada lingkungan yang membuatnya merasa aman untuk mengucapkannya.
Pencegahan bunuh diri bukan hanya tugas psikolog, psikiater, dokter, atau terapis. Ia juga merupakan tanggung jawab sosial. Sebab, seseorang mungkin tidak selalu membutuhkan orang yang mampu menyelesaikan seluruh masalahnya. Terkadang, ia hanya membutuhkan seseorang yang tidak pergi ketika mendengar betapa berat masalah tersebut.
Simak juga: Feminisme: Perjuangan Kesetaraan atau Gerakan Anti Laki-Laki
Mengubah narasi, mengubah cara kita melihat manusia
Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia bukan semata-mata tentang satu hari dalam kalender. Ia adalah pengingat bahwa di balik data statistik, terdapat manusia. Di balik angka-angka, terdapat keluarga. Di balik berita, terdapat kehidupan yang pernah memiliki harapan, ketakutan, impian, kegagalan, hubungan, cinta dan kasih, serta cerita yang mungkin tidak pernah kita ketahui seluruhnya. Karena itu, mungkin sudah waktunya kita berhenti melihat bunuh diri hanya sebagai akhir dari kehidupan seseorang. Kita perlu melihat dan berfokus pada perjalanan psikologis yang mungkin mendahuluinya. Bukan untuk mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi untuk memahami apa yang dapat kita lakukan sebelum semuanya terlambat. Kita perlu mengubah narasi dari “Mengapa dia tidak berpikir panjang?” menjadi “Apa yang membuat hidupnya terasa begitu berat?.” Dari “Dia hanya mencari perhatian” menjadi “Mungkin ada sesuatu yang sedang ingin ia sampaikan.” Dari “Dia harus kuat” menjadi “Bagaimana caranya kita bisa menemani dia melewati masa yang sulit ini?,” dan dari diam menjadi percakapan.
Sebab mungkin kita tidak selalu bisa menghilangkan rasa sakit seseorang. Kita juga tidak selalu bisa menyelesaikan masalahnya. Kita bahkan mungkin tidak memiliki kata-kata yang tepat baginya. Tetapi, kita bisa hadir, kita bisa mendengarkan, dan kita bisa membantu mencari pertolongan. Serta yang paling sederhana, kita bisa memastikan bahwa seseorang tidak merasa harus menghadapi rasa sakitnya seorang diri. Mereka tidak selalu ingin mati, mereka mungkin hanya ingin berhenti merasakan sakit. Karena itu, sebelum menghakimi, mari mendengarkan. Sebelum menyimpulkan, mari bertanya. Sebelum terlambat, mari membuka percakapan.
Changing the Narrative on Suicide: Start the Conversation.
Selamat memperingati hari pencegahan bunuh diri sedunia (World suicide prevention day) 2026



