Tidak Selalu Ingin Mati, Hanya Ingin Berhenti Merasakan Sakit. (I)

Melihat Hukum dari Kacamata Anak

September 2, 2026

Tidak Selalu Ingin Mati, Hanya Ingin Berhenti Merasakan Sakit. (II)

September 10, 2026
Changing the Narrative on Suicide; Start the Conversation Penulis: Andreas Pakpahan Kader GMKI Komisariat UHN Medan Dan Mahasiswa Fakultas psikologi […]

Changing the Narrative on Suicide; Start the Conversation

Penulis: Andreas Pakpahan

Kader GMKI Komisariat UHN Medan Dan Mahasiswa Fakultas psikologi

 

 Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization / WHO), kematian akibat bunuh diri terjadi setiap 40 detik, yang setara dengan 2.100 jiwa per hari atau memperkirakan lebih dari 720.000 hingga 800.000 jiwa setiap tahunnya secara global. Di balik angka-angka tersebut, terdapat kondisi ketika seseorang sesungguhnya tidak bermaksud untuk mengakhiri hidupnya, melainkan hanya berupaya menghentikan penderitaan hebat yang tengah dialaminya.

Hal di atas mungkin terdengar sederhana, tetapi di dalamnya terdapat persoalan besar tentang bagaimana kita memahami isu bunuh diri. Kerap kali, pembicaraan mengenai hal ini berhenti pada satu pertanyaan: “Mengapa dia melakukan itu?”. Pertanyaan tersebut kemudian diiringi dengan berbagai penilaian, seperti kurang bersyukur, kurang beriman, sekadar mencari perhatian, lemah dalam menghadapi masalah, atau bahkan dianggap egois karena meninggalkan orang-orang tercinta. Tanpa kita sadari, kita terlalu cepat memberikan kesimpulan atas penderitaan yang sebenarnya belum pernah kita dengarkan.

Memutuskan mengakhiri hidup sesungguhnya tidak pernah lahir dari satu alasan tunggal, namun sebagai bagian dari psikososial yang lebih kompleks, mulai dari faktor sosial ekonomi, politik, hingga psikologis. Bahkan, WHO mencatat bunuh diri sebagai salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia pada rentang usia 15–29 tahun, rentang usia produktif yang harusnya sedang bertumbuh.

Data ini seharusnya membuat kita bertanya secara kritis, berapa banyak orang di luar sana yang sebenarnya berjuang sendirian sampai akhirnya merasa tidak punya jalan keluar lagi?

Baca juga: Melihat Hukum dari Kacamata Anak

Miskonsepsi di Balik Keinginan untuk Mengakhiri Hidup

Ketika mendengar seseorang mengutarakan keinginan untuk mengakhiri hidupnya, reaksi pertama yang kerap muncul adalah rasa panik. Tidak jarang, respons spontan yang diberikan justru berupa bantahan atau dorongan moral, seperti “Jangan berpikir seperti itu,” “Kamu harus kuat,” atau “Masih banyak orang yang menyayangimu.” Bahkan, tidak sedikit yang membandingkan keadaan dengan mengatakan bahwa masalah orang tersebut tidak seberapa. Kalimat-kalimat semacam ini umumnya lahir dari niat baik untuk menyelamatkan. Namun, niat yang baik tidak selalu berbanding lurus dengan respons yang tepat.

Ketika berada di titik terendah, seseorang yang mengalami krisis mental tidak butuh diceramahi tentang alasan mengapa ia harus bertahan. Kadang-kadang, yang ia perlukan hanyalah ruang aman—seseorang yang mau duduk berdampingan dan mendengarkan keluh kesahnya tanpa menghakimi. Perubahan cara kita merespons penderitaan inilah yang menjadi inti masalah.

Mengubah cara pandang tersebut selaras dengan fokus World Suicide Prevention Day melalui tema “Changing the Narrative on Suicide” yang menyuarakan pentingnya “Start the Conversation”. WHO mendorong publik untuk mulai mematahkan berbagai mitos dan stigma agar mereka yang berjuang merasa aman untuk bersuara serta mencari bantuan. Pencegahan sejatinya tidak melulu membutuhkan solusi yang rumit; sering kali, langkah awal itu hadir dari keberanian bertanya, “Kamu benar-benar baik-baik saja?”, dan ketulusan untuk sungguh-sungguh mendengarkan apa pun jawabannya.

Bagi orang lain, kalimat itu mungkin terdengar sangat tidak masuk akal. Tetapi bagi seseorang yang sedang mengalami tekanan psikologis berat, pikiran tersebut dapat terasa benar-benar nyata. Mengatakan “kamu terlalu banyak berpikir” tidak serta-merta mampu menghilangkan pikiran tersebut. Yang dibutuhkan bukan sekedar membantah pikirannya, tetapi memahami bagaimana seseorang bisa sampai pada titik tersebut.

Simak juga: Mempertanyakan Peran Negara, Ketika Bencana Datang Bertubi-tubi

Akar Penderitaan Psikologis di Balik Dorongan Mengakhiri Hidup

Secara psikologis, keinginan untuk mengakhiri hidup bukanlah hal sejelas “ingin mati” semata. Melalui Interpersonal-Psychological Theory of Suicide, Thomas Joiner dan timnya memaparkan bahwa dorongan ini sangat dipengaruhi oleh thwarted belongingness atau rasa terasing dari lingkungan sekitar, serta perceived burdensomeness atau persepsi bahwa dirinya adalah beban. Studi-studi penjelas setelahnya mengonfirmasi bahwa makin kuat kedua perasaan tersebut dirasakan, makin berat pula ideasi bunuh diri yang dialami seseorang, walaupun fakta ini tentu tidak bisa disamaratakan pada seluruh individu.

Mari membayangkan kondisi seseorang yang setiap hari dihinggapi perasaan tak berguna. Ia melihat kawan-kawannya terus bertumbuh, sedangkan ia merasa jalan di tempat. Ia menyaksikan keluarganya bekerja membanting tulang, lalu mulai menyalahkan diri sendiri sebagai sumber masalah. Rentetan krisis—seperti patah hati, PHK, beban studi, atau sekadar rasa sesak yang tak sanggup diartikulasikan—pada akhirnya menggiring logikanya pada satu kesimpulan fatal: “Mungkin dunia dan orang-orang di sekitarku akan jauh lebih baik jika aku tidak ada.”

Antara Riuhnya Interaksi dan Sepinya Jiwa

Ada ironi mendalam yang menyelimuti era modern saat ini. Kita tinggal di dunia yang memungkinkan seseorang terhubung dengan ratusan kawan di media sosial, tetapi di saat yang sama merasa tidak punya siapa-siapa untuk berbagi cerita. Sangat mudah bagi kita mengirim pesan singkat, namun rasanya begitu sulit untuk secara jujur mengakui bahwa kita sedang rapuh. Kita tahu betul apa yang dikonsumsi atau dikunjungi orang lain setiap harinya lewat unggahan digital, tanpa pernah mengetahui pergulatan batin yang sedang mereka lewati. Di sinilah letak jurangnya: hadir secara fisik atau digital di tengah publik tidak lantas berarti kita terhubung secara emosional.

Seseorang sanggup merasa kesepian di tengah hangatnya kumpul keluarga, atau merasa tak dipahami meski dikelilingi banyak kawan. Tidak sedikit orang yang tetap mampu tertawa riang, berprestasi di kantor, aktif dalam komunitas, bahkan selalu hadir membantu orang lain, padahal ia sedang memikul beban berat sendirian. Sudah saatnya kita tidak lagi mengukur kondisi batin seseorang hanya dari apa yang kasat mata, karena sejatinya, senyuman yang terikat di wajah tidak pernah bisa menjadi bukti mutlak bahwa seseorang sedang dalam keadaan baik-baik saja.

Tembok Stigma: Hambatan Utama dalam Meminta Pertolongan

Salah satu rintangan terbesar dalam upaya pencegahan bunuh diri adalah keberadaan stigma sosial. Ketakutan akan label “lemah” saat mengutarakan krisis mental kerap memaksa seseorang untuk memilih bungkam. Perasaan cemas dianggap sekadar mencari perhatian, kekhawatiran akan kemarahan keluarga, atau ketakutan diajauhi oleh lingkungan sosial pada akhirnya terus mempertebal tembok kesendirian tersebut. Di sinilah letak kontradiksi sikap masyarakat: seruan untuk tidak memendam masalah sering kali bergaung, namun lingkungan sekitar justru belum menyediakan ruang yang cukup aman untuk mendengar.

Publik kerap menyuarakan imbauan agar seseorang tidak menanggung beban sendirian, tetapi saat keberanian untuk bercerita itu muncul, respons yang diterima justru berupa penghakiman atau kalimat penyangkalan seperti tuntutan untuk lebih bersyukur dan menjadi lebih kuat. Padahal, perjuangan bertahan itu mungkin telah berlangsung sangat lama tanpa pernah benar-benar dipahami. Mengubah narasi sejatinya berarti membenahi pola respons sosial—bukan untuk membenarkan tindakan bunuh diri atau menganggap setiap ucapan tentang kematian pasti berujung fatal, melainkan membangun kemampuan untuk mendiskusikannya secara serius tanpa menghakimi, meromantisasi, ataupun menganggapnya remeh. (berlanjut)