
Gaya Hidup Sehat di Tengah Ritme Hidup Modern
April 12, 2026
Menjadi Nyata adalah Revolusi
April 14, 2026Cat Calling dan Seksisme Sehari-hari yang Terus Dianggap Sepele
Sore itu, jalanan kota tidak terlalu ramai. Langkah kaki terasa biasa saja, hingga sebuah suara memecah ruang—siulan singkat, disusul panggilan yang tidak diminta. Tidak ada percakapan sebelumnya, tidak ada relasi apa pun. Hanya satu arah: komentar yang dilempar, lalu berlalu begitu saja seolah tidak meninggalkan apa-apa.
Namun pengalaman itu tidak benar-benar hilang. Ia tinggal, setidaknya untuk beberapa saat—dalam bentuk rasa tidak nyaman, kewaspadaan, dan pertanyaan yang berulang. Apakah langkah perlu dipercepat? Apakah rute perlu diubah? Apakah kejadian serupa akan terulang beberapa meter ke depan?
Pengalaman seperti ini bukan hal baru. Ia terjadi di banyak tempat, dalam berbagai situasi, dengan pola yang hampir sama. Dalam kerangka Everyday Sexism Project yang digagas oleh Laura Bates, pengalaman tersebut masuk dalam kategori seksisme sehari-hari—bentuk interaksi yang tampak kecil, tetapi berulang dan membentuk pengalaman kolektif.
Cat calling sering dipahami sebagai sesuatu yang sepele. Dalam banyak percakapan, ia bahkan diposisikan sebagai pujian. Kalimat seperti “itu kan cuma iseng” atau “anggap saja apresiasi” kerap muncul sebagai respons. Namun narasi ini justru menutup fakta bahwa cat calling terjadi tanpa persetujuan dan tanpa ruang untuk menolak.
Di satu sisi, pelaku mungkin menganggap tindakan tersebut tidak bermasalah. Di sisi lain, pengalaman yang diterima tidak sesederhana itu. Ia bukan hanya tentang kata-kata yang dilontarkan, tetapi tentang bagaimana ruang publik digunakan. Ada pergeseran halus: dari ruang yang seharusnya netral menjadi ruang yang penuh perhitungan.
Langkah yang tadinya santai berubah menjadi lebih cepat. Pandangan mulai lebih waspada. Pilihan jalan dipertimbangkan ulang. Hal-hal ini sering terjadi tanpa disadari, tetapi menjadi bagian dari adaptasi terhadap pengalaman yang berulang.
Dalam pendekatan Everyday Sexism Project, kekuatan utama terletak pada pola. Satu pengalaman mungkin terlihat kecil. Namun ketika pengalaman yang sama muncul berkali-kali, dari orang yang berbeda, di tempat yang berbeda, maka ia tidak lagi bisa dianggap sebagai kebetulan. Ia menjadi bagian dari sistem yang lebih besar.
Cerita-cerita yang dikumpulkan oleh Laura Bates menunjukkan bahwa cat calling adalah pengalaman yang lintas batas—terjadi di berbagai negara, budaya, dan usia. Kesamaan pola ini memperlihatkan bahwa masalahnya tidak terletak pada individu semata, tetapi pada cara pandang yang lebih luas tentang tubuh dan ruang.
Yang sering tidak terlihat adalah dampaknya. Cat calling tidak meninggalkan bekas fisik, tetapi membentuk pengalaman psikologis. Rasa tidak aman muncul, bahkan di tempat yang seharusnya biasa saja. Dalam jangka panjang, pengalaman ini dapat memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan ruang publik.
Respons sosial terhadap cat calling juga menjadi bagian dari masalah. Ketika pengalaman tersebut diceritakan, respons yang muncul sering kali meremehkan. “Sudah biasa,” “tidak perlu dipikirkan,” atau “biarkan saja” menjadi kalimat yang sering didengar. Respons seperti ini tidak hanya mengabaikan pengalaman, tetapi juga memperkuat normalisasi.
Dalam banyak situasi, diam menjadi pilihan yang paling aman. Bukan karena tidak ada keberatan, tetapi karena risiko untuk merespons sering kali lebih besar. Cat calling bisa berubah menjadi situasi yang lebih tidak terkendali ketika dilawan. Dalam kondisi seperti ini, strategi bertahan menjadi pilihan yang realistis.
Pendekatan yang ditawarkan oleh Everyday Sexism Project mengajak untuk melihat pengalaman ini sebagai bagian dari struktur. Bukan sekadar interaksi individual, tetapi pola yang membentuk cara ruang publik diakses. Ketika satu pihak merasa bebas untuk berkomentar, sementara pihak lain harus menyesuaikan diri, maka ada ketimpangan yang terjadi.
Mengubah cara pandang menjadi langkah awal. Cat calling bukan pujian, melainkan bentuk intervensi yang tidak diinginkan. Ia menggeser batas personal dan menciptakan ketidaknyamanan. Mengakui hal ini penting untuk menghentikan normalisasi yang selama ini terjadi.
Cerita di sore hari itu mungkin terlihat sederhana. Namun ketika cerita serupa terus berulang, ia membentuk realitas yang tidak bisa diabaikan. Ruang publik seharusnya menjadi tempat yang setara, tanpa rasa takut atau kewaspadaan berlebih.
Selama cat calling masih dianggap sepele, pengalaman seperti itu akan terus terjadi. Dan selama itu pula, langkah kaki di ruang publik tidak pernah benar-benar bebas.












